
KUKAR – Disketapang Kukar membidik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai salah satu pasar penyerapan beras lokal dengan menyiapkan empat lumbung pangan sebagai pemasok beras premium
Kepala Disketapang Kukar, Ananias, mengatakan penguatan lumbung menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah hasil pertanian. Dukungan peralatan pengolahan diperlukan agar gabah yang dihasilkan petani dapat diproses secara lebih optimal sebelum dipasarkan.
Ananias mengatakan empat lumbung yang menjadi perhatian berada di Desa Rapak Lambur, Kecamatan Tenggarong, Desa Segihan, Desa Giri Agung, Kecamatan Sebulu, dan Desa Sidomulyo di Kecamatan Anggana.
Ia menjelaskan pengembangan fasilitas di lokasi tersebut mencakup pembenahan mesin penggilingan padi atau ruce milling unit (RMU) serta sarana pengeringan.
“Kami ingin lumbung pangan ini menjadi tempat petani meningkatkan kualitas hasil panennya. Jadi, gabah yang dihasilkan tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi beras yang memiliki daya saing di pasaran,” ungkapnya, Senin (19/10/2026).
Ia menyampaikan selain pengeringan, mutu beras juga akan diperhatikan melalui rencana pengadaan mesin color sorter di empat lumbung. Peralatan ini berfungsi memilah butiran beras berdasarkan warna, termasuk memisahkan beras yang menguning agar hasil akhirnya lebih seragam.
Ananias menjelaskan, pembenahan fasilitas pengolahan perlu diikuti dengan strategi pemasaran. Karena itu, beras dari masing-masing lumbung direncanakan memiliki kemasan dan merek tersendiri sehingga produk lokal lebih mudah dikenali ketika masuk ke pasar.
“Kalau sudah memiliki kemasan dan identitas produk, beras dari lumbung ini bisa dipasarkan dengan lebih terarah. Jadi bukan hanya mengolah hasil panen, tetapi juga menyiapkan produk yang siap ditawarkan kepada pembeli,” ujarnya.
Ia menyebut peluang pemasaran yang dibidik salah satunya adalah kebutuhan beras untuk dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ananias bilang produksi dari daerah sendiri dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga ketergantungan terhadap pasokan beras dari luar Kukar bisa ditekan.
Potensi produksi juga menjadi pertimbangan dalam pengembangan fasilitas. Untuk lumbung di Anggana, lanjut dia, kapasitas produksi diperkirakan dapat mencapai sekitar 100 ton beras dalam satu musim tanam dengan dukungan sarana pengering yang tersedia.
Di luar kebutuhan SPPG, sambung dia, hasil pengolahan beras juga berpeluang ditawarkan kepada Perum Bulog maupun perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah Kukar. Perluasan calon pembeli diharapkan memberi lebih banyak pilihan penyerapan bagi produk yang dihasilkan petani.
Pengembangan lumbung pangan tidak menutup kemungkinan diperluas ke wilayah lain. Sungai Payang dan Sungai Pimping di kawasan Loa Duri Seberang turut disebut sebagai lokasi yang berpotensi dikembangkan pada tahap berikutnya.
“Kami ingin hasil pertanian Kukar bisa diolah dan dimanfaatkan di daerah sendiri. Dengan begitu, petani punya peluang pasar yang lebih luas dan kebutuhan beras lokal bisa didukung dari produksi sendiri,” pungkasnya. (Adv)