Home Advedtorial Disketapang Kukar Perkuat Edukasi Pangan Bergizi untuk Dukung Pencegahan Stunting

Disketapang Kukar Perkuat Edukasi Pangan Bergizi untuk Dukung Pencegahan Stunting

KUKAR – Upaya pencegahan stunting di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tidak hanya dilakukan melalui intervensi kesehatan, tetapi juga didukung dengan edukasi mengenai pola konsumsi pangan sehat. Melalui pengenalan pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) kepada anak-anak usia sekolah.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar, Ananias, mengatakan pihaknya turut mengambil peran dalam mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat melalui sejumlah program edukasi yang menyasar peserta didik tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Ia menjelaskan, program tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi Disketapang dalam memperkenalkan pentingnya keberagaman makanan serta pemenuhan gizi seimbang sejak usia sekolah.

“Yang menjadi sasaran kegiatan kami memang anak-anak sekolah. Melalui program B2SA, kami ingin memberikan pemahaman mengenai pentingnya mengonsumsi makanan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman,” ujar Ananias, Kamis (5/11/2026).

Menurutnya, kegiatan B2SA dan B2SA Go to School merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran anak-anak terhadap kualitas pangan yang dikonsumsi sehari-hari.

Meski demikian, Ananias menerangkan bahwa penanganan stunting membutuhkan intervensi sejak tahap awal kehidupan. Pencegahan bahkan perlu diperhatikan sejak bayi baru lahir, sehingga pelaksanaannya melibatkan berbagai perangkat daerah sesuai tugas dan kewenangannya.

Ia menyebutkan, Disketapang bukan instansi yang menangani secara langsung kasus stunting. Peran pihaknya lebih diarahkan pada aspek ketahanan pangan, terutama memastikan masyarakat memahami pentingnya konsumsi makanan dengan kandungan gizi yang baik.

“Kalau sudah berbicara penanganan kasus stunting, tentu teman-teman dari Dinas Kesehatan yang lebih memahami secara teknis. Kami di sini sifatnya mendukung melalui program pangan beragam, bergizi, seimbang, dan aman,” jelasnya.

Ananias juga menilai sasaran program Disketapang yang lebih banyak menyentuh anak usia sekolah membuat dampaknya terhadap penanganan stunting secara langsung tidak terlalu terlihat. Sebab, kelompok usia tersebut berbeda dengan sasaran utama intervensi pencegahan stunting.

Kendati demikian, lanjut dia, edukasi pangan tetap dinilai penting untuk membangun kebiasaan mengonsumsi makanan sehat. Pemahaman mengenai kualitas dan keberagaman pangan diharapkan dapat menjadi bekal bagi anak-anak dalam menjaga kebutuhan gizi mereka.

“Kami memang tidak menangani stunting secara spesifik, tetapi melalui edukasi B2SA kami berupaya mengenalkan kepada anak-anak bahwa makanan yang dikonsumsi harus memenuhi kebutuhan gizi. Ini menjadi bagian dari dukungan kami terhadap upaya peningkatan kualitas gizi masyarakat,” pungkasnya. (Adv)

Exit mobile version