
TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus menguatkan identitas daerah melalui pendekatan yang tidak konvensional: membangun citra sebagai kota festival.
Di antara berbagai upaya branding yang dilakukan, Kukar Land Festival Jilid III diproyeksikan menjadi ajang unggulan yang menempatkan Kukar sejajar dengan pusat-pusat pariwisata berbasis event lainnya di Indonesia.
Festival yang akan digelar Juli 2025 mendatang di Stadion Aji Imbut bukan hanya perayaan budaya, tetapi strategi jangka panjang untuk menempatkan Kukar dalam peta destinasi kreatif Kalimantan Timur.
“Ini bukan sekadar hiburan. Kukar Land adalah alat branding. Kita sedang membentuk persepsi bahwa Kukar adalah daerah yang hidup, terbuka, kreatif, dan punya daya tarik wisata unik,” ujar Plt Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata Kukar, Ahmad Ivan, Sabtu (5/4/2025).
Kukar Land di desain dengan format yang imersif dan modern. Konsep zona tematik—mulai dari panggung musik, area kuliner lokal, pameran UMKM kreatif, hingga instalasi seni terbuka—ditujukan untuk menciptakan pengalaman yang kuat dan berkesan bagi pengunjung.
Melalui pendekatan ini, Kukar tak lagi hanya dikenal sebagai daerah kaya sumber daya alam, tetapi juga sebagai pusat gerakan budaya baru yang menghidupkan ruang publik, memberdayakan komunitas, dan mendatangkan wisatawan.
“Branding ini penting. Festival adalah cara kita bicara kepada dunia: bahwa Kukar punya cerita, punya gaya, dan layak dikunjungi,” tambah Ivan.
Strategi branding melalui Kukar Land juga dikaitkan dengan Kutai Kartanegara Kaya Festival (K3F), agenda besar yang merangkum berbagai event tematik sepanjang tahun. Festival ini menjadi titik kulminasi dari upaya membangun narasi Kukar sebagai daerah yang tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga secara identitas kultural.
Tak hanya menjadi magnet pengunjung, Kukar Land menjadi ruang kolaborasi strategis antara pemerintah, pelaku seni, komunitas muda, dan pelaku UMKM lokal. Kolaborasi inilah yang menghidupkan dinamika kreatif dan memperkuat ekosistem ekonomi budaya Kukar.
Dalam perencanaannya, Kukar Land juga diarahkan menjadi event signature tahunan yang masuk kalender nasional, seperti Dieng Culture Festival atau Jember Fashion Carnaval. Langkah ini dimaksudkan agar Kukar tidak hanya dikenal karena sejarahnya, tetapi juga karena konsistensi dan kualitas event-nya.
“Branding daerah hari ini tidak cukup lewat brosur atau baliho. Kita butuh cerita yang kuat dan momen yang bisa dirasakan langsung. Kukar Land adalah cerita itu,” tegas Ivan.
Dengan positioning yang kuat dan partisipasi lintas sektor, Kukar Land Festival bukan sekadar agenda tahunan, tetapi fondasi Kukar sebagai kota festival di Kalimantan Timur—sebuah daerah yang menyambut wisatawan dengan atraksi, ekspresi, dan energi kreatif.