Home Advedtorial Kutai Timur Didorong Jadi Pusat Energi Terbarukan Berbasis Sawit, Akses Listrik Masih...

Kutai Timur Didorong Jadi Pusat Energi Terbarukan Berbasis Sawit, Akses Listrik Masih Jadi Tantangan

Samarinda — Kabupaten Kutai Timur, salah satu wilayah yang kaya akan sumber daya alam di Kalimantan Timur, masih menghadapi permasalahan serius dalam hal pemerataan akses energi.

Hingga saat ini, sejumlah desa di kawasan tersebut belum menikmati layanan listrik secara menyeluruh dari PLN.

Berdasarkan data terbaru, dari 141 desa yang ada di Kutai Timur, tercatat sebanyak 26 desa belum teraliri listrik PLN.

Beberapa wilayah yang telah mendapatkan sambungan listrik pun belum sepenuhnya merasakan pelayanan optimal.

Misalnya, Desa Manubar dan Manubar Dalam di Kecamatan Sandaran hanya memperoleh aliran listrik selama 12 jam per hari sejak 2024.

Pemerintah melalui PLN telah menetapkan target untuk melistriki seluruh desa di Kutai Timur pada 2027.

Program ini akan dijalankan secara bertahap dengan dukungan anggaran dari APBN.

Namun, mengingat urgensi kebutuhan, berbagai pendekatan alternatif mulai dikembangkan untuk mempercepat realisasi akses energi bagi masyarakat.

Salah satu terobosan yang kini mulai mendapat perhatian adalah pemanfaatan kelebihan daya listrik dari sektor industri kelapa sawit.

Di antara perusahaan yang berpotensi mendukung program ini adalah PT Bumi Mas Agro (BMA), yang memiliki kapasitas daya sekitar 1 megawatt.

Energi tersebut dinilai cukup untuk menyuplai listrik ke tujuh desa di sekitar kawasan operasional perusahaan.

Kolaborasi ini dirancang melalui sinergi antara sistem jaringan internal milik perusahaan dan interkoneksi dengan sistem PLN.

Pendekatan ini dianggap strategis karena mampu menjawab tantangan elektrifikasi di wilayah yang sulit dijangkau oleh infrastruktur jaringan utama.

Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, menyatakan dukungannya terhadap upaya pemanfaatan energi alternatif dari sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit.

Ia menilai, pendekatan ini tidak hanya relevan dengan kebutuhan lokal, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pembangunan berkelanjutan.

“Limbah sawit seperti tandan kosong, cangkang, dan limbah cair (POME) memiliki potensi besar untuk diolah menjadi sumber energi, baik berupa biomassa maupun biogas. Ini merupakan langkah konkret yang tidak hanya menjawab tantangan energi, tetapi juga memperkuat arah pembangunan hijau di daerah,”ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa pengembangan energi terbarukan dari kelapa sawit memerlukan kerja sama lintas sektor, baik dari pemerintah, pelaku industri, maupun kalangan investor.

Keterlibatan multipihak diyakini menjadi kunci keberhasilan transformasi energi ini.

“Kita memiliki volume limbah sawit yang sangat besar. Tidak semestinya hanya menjadi limbah, tetapi perlu dimanfaatkan sebagai sumber energi yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat,”tegasnya.

Dengan jumlah sekitar 40 pabrik kelapa sawit yang tersebar di Kutai Timur dan kapasitas pengolahan mencapai 2.200 ton tandan buah segar (TBS) per jam, daerah ini dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi pionir dalam pengembangan energi alternatif berbasis komoditas lokal, khususnya untuk menjangkau wilayah pedalaman yang belum tersentuh layanan listrik secara penuh.
(adv/diskominfokaltim).

Exit mobile version