
SAMARINDA – Di tengah pesatnya laju pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyuarakan kekhawatiran terhadap semakin terpinggirkannya warisan budaya dan sejarah lokal.
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, menilai bahwa pelestarian budaya dan penelusuran sejarah daerah harus mendapat porsi perhatian yang sama seriusnya dengan pembangunan fisik.
Seno menyatakan bahwa Kalimantan Timur menyimpan jejak peradaban yang kaya, namun berisiko tergerus zaman karena minimnya riset dan dokumentasi ilmiah.
Ia menyoroti masih banyaknya situs sejarah di Kaltim yang belum tergarap secara optimal—baik dari sisi penggalian ilmiah, pencatatan, maupun publikasi.
“Warisan sejarah kita bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah bagian dari identitas, dan jika tidak segera diteliti dan dicatat, maka kita kehilangan akar kebudayaan kita sendiri,” tegas Seno Aji, saat mendampingi kunjungan kerja Kementerian Kebudayaan pada Jumat (30/5/2025).
Ia juga mengungkapkan bahwa situs-situs penting seperti lukisan gua prasejarah di Sangkulirang, hingga peninggalan kerajaan di Muara Kaman, belum mendapat perhatian riset yang memadai.
Kurangnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan lembaga kebudayaan menjadi tantangan besar dalam upaya pelestarian sejarah lokal.
Seno menekankan perlunya pelibatan aktif peneliti, sejarawan, dan pelaku budaya untuk mendokumentasikan tradisi lisan, ritus adat, hingga warisan fisik masyarakat Dayak dan Kutai secara terstruktur.
Menurutnya, budaya yang tidak terdokumentasi hanya akan hidup sebentar dalam ingatan generasi tua dan perlahan menghilang tanpa jejak.
“Budaya itu harus dipelajari dan diwariskan. Tidak cukup hanya diwariskan secara lisan. Butuh riset, publikasi, dan pengakuan secara ilmiah agar bisa terus hidup dalam sistem pendidikan dan kebijakan publik,”ujar Seno.
Lebih lanjut, ia berharap kerja sama antara pemerintah daerah dan pusat bisa mendorong terbentuknya peta budaya yang lengkap, sekaligus strategi pelestarian yang berkelanjutan.
Ia juga mengingatkan bahwa arah pembangunan seharusnya tidak semata-mata berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan akar sejarah sebagai penyangga identitas daerah.
“Kita tidak boleh hanya bangga dengan infrastruktur dan investasi. Jika kita kehilangan sejarah dan budaya, maka kita kehilangan jati diri. Itulah yang harus dijaga,”pungkasnya.
(adv/diskominfokaltim).