TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai menunjukkan keseriusannya dalam menggerakkan roda ekonomi berbasis pertanian.
Melalui program hilirisasi yang didukung anggaran sebesar Rp 216 miliar pada 2025, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar tak hanya fokus pada produksi, tetapi juga mendorong tumbuhnya pelaku usaha kecil di sektor agribisnis.
Kepala Distanak Kukar, Muhammad Taufik, menyatakan bahwa hilirisasi adalah jembatan penting untuk menciptakan nilai tambah dari hasil tani dan ternak lokal. Bukan lagi sekadar panen lalu jual, tetapi mengolah, mengemas, dan menjual dengan merek sendiri.
“Petani tak lagi hanya menjual cabai atau tomat segar. Sekarang mulai muncul UMKM pengolah sambal, keripik sayur, bahkan sosis dari daging sapi lokal. Ini tanda bahwa hilirisasi mulai bergerak,” ujarnya, Jumat (4/4/2025).
Dengan sokongan program pelatihan kewirausahaan, penyediaan rumah kemas, dan akses ke mesin produksi skala kecil, Distanak mulai melihat munculnya wajah-wajah baru wirausaha berbasis pertanian di sentra-sentra produksi Kukar.
Beberapa kelompok tani kini menjelma menjadi pelaku usaha mikro yang menjual produk olahan di pasar lokal, marketplace digital, hingga pameran regional. Pemerintah hadir memberi bimbingan dalam hal sertifikasi PIRT, desain kemasan, dan strategi pemasaran.
“Petani yang dulunya hanya menunggu tengkulak, sekarang bisa bawa produk sendiri ke Car Free Day, mal pelayanan publik, bahkan masuk ke ritel modern. Inilah kekuatan hilirisasi,” tambah Taufik.
Program ini juga menjangkau wilayah pesisir dan pedalaman, melalui penguatan infrastruktur pertanian seperti jaringan irigasi dan distribusi. Komoditas unggulan seperti kelapa, pisang, dan hasil perikanan mulai digarap untuk produk turunan seperti virgin coconut oil, keripik pisang, dan abon ikan.
Bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang diberikan bukan hanya untuk mempercepat tanam dan panen, tapi juga mendukung pengolahan pascapanen yang efisien dan higienis—syarat utama agar produk petani bisa bersaing di pasar yang lebih luas.
Tak ketinggalan, subsektor peternakan juga mulai diarahkan masuk ke ekosistem hilir. Daging ayam dan sapi lokal yang dulunya hanya dipasarkan segar, kini mulai diolah dalam bentuk sosis, nugget, dan abon yang siap jual.
“Hilirisasi membuka ruang bagi UMKM pertanian dan peternakan tumbuh. Kita dorong ini agar ekonomi berbasis desa makin kuat dan tidak bergantung pada musim panen semata,” jelas Taufik.
Dengan hilirisasi sebagai porosnya, Distanak Kukar optimistis Kukar bukan hanya jadi penghasil bahan baku, tetapi juga pusat agribisnis kreatif yang memperluas lapangan kerja dan memperkuat daya saing produk lokal. (*).


