Samarinda – Banjir yang kembali merendam Stadion Utama Palaran dan Stadion Sempaja menjadi alarm keras bagi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), pemerintah menegaskan perlunya upaya nyata untuk melindungi infrastruktur olahraga dari ancaman bencana berulang.
Curah hujan tinggi yang terjadi beberapa waktu terakhir, diperparah dengan naiknya permukaan air sungai, membuat dua stadion kebanggaan warga Samarinda tersebut terendam. Padahal, keduanya memiliki peran vital bukan hanya untuk pengembangan atlet, tetapi juga sebagai ruang aktivitas masyarakat di bidang olahraga dan kesehatan.
Kepala UPTD Pengelolaan Prasarana Olahraga Dispora Kaltim, Junaidi, menyebut kondisi ini tidak bisa lagi dianggap sebagai insiden biasa.
Ia menyatakan pihaknya sedang menyiapkan strategi mitigasi, termasuk langkah teknis berupa pengerukan sedimentasi sebagai bagian dari rencana penanganan jangka menengah.
“Pengerukan ini menjadi salah satu prioritas di anggaran perubahan mendatang. Drainase yang ada sekarang sudah tidak mampu menampung volume air yang masuk,” jelas Junaidi, Selasa (1/7/25).
Namun, ia menegaskan bahwa masalah utama bukan hanya pada sistem drainase yang tersumbat. Faktor alam seperti tingginya curah hujan dan posisi sungai yang lebih tinggi dari saluran air di sekitar stadion juga mempercepat terjadinya genangan.
“Kalau muka air sungai sudah lebih tinggi dari saluran, air pasti melimpas masuk ke stadion. Dan ini terjadi sangat cepat,” ujarnya.
Menurut Junaidi, perlindungan terhadap sarana olahraga harus dilihat sebagai bagian dari investasi jangka panjang. Infrastruktur seperti stadion, katanya, bukan hanya tempat bertanding, tetapi ruang publik yang menyentuh langsung aspek pembangunan manusia.
“Kerusakan stadion akibat banjir bukan cuma soal bangunan. Ketika aktivitas masyarakat berhenti, dampaknya sampai ke pembinaan atlet dan kualitas hidup warga,” ungkapnya.
Karena itu, ia mendorong kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi persoalan ini, mengingat kompleksitas penyebab banjir yang membutuhkan pendekatan teknis dan adaptif sekaligus.
“Selama kondisi sungai dan cuaca ekstrem belum tertangani secara menyeluruh, ancaman seperti ini akan terus ada. Kita harus siap dengan strategi jangka panjang,” tutup Junaidi.(ADV)


