Samarinda – Pelestarian olahraga tradisional tak hanya soal menjaga budaya, tetapi juga membentuk karakter generasi muda. Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur melihat potensi besar dari aktivitas ini sebagai sarana pendidikan karakter di lingkungan sekolah.
Menurut Kepala Seksi Olahraga dan Rekreasi Tradisional Dispora Kaltim, Thomas Alva Edison, jenis permainan dalam olahraga tradisional memiliki pengaruh langsung terhadap pembentukan kepribadian siswa.
Ia menyebut bahwa permainan individu dapat melatih anak berpikir mandiri, sementara permainan kelompok membangun kerja sama dan toleransi.
“Permainan tunggal melatih anak untuk berpikir mandiri dan menyelesaikan masalah sendiri. Sedangkan permainan kelompok menumbuhkan kerja sama, rasa kebersamaan, dan toleransi,” jelas Thomas, Sabtu (5/7/2025).
Ia menambahkan, dibanding olahraga prestasi yang cenderung bersifat kompetitif dan individualis, olahraga tradisional justru memperkuat nilai kebersamaan.
“Kalau olahraga prestasi yang sifatnya individu biasanya membentuk karakter yang lebih kompetitif dan cenderung egois. Tapi permainan tradisional itu justru menanamkan nilai kebersamaan dan kerja sama,” ucapnya.
Dengan semangat itu, Dispora Kaltim terus menggandeng sekolah-sekolah untuk aktif melibatkan siswa dalam kegiatan olahraga tradisional. Dispora juga mendorong sekolah agar mandiri dalam menyiapkan fasilitas kegiatan di lingkungan masing-masing.
“Untuk sarana dan prasarana, kalau yang internal ada di stadion kami. Tapi untuk eksternal, masing-masing sekolah biasanya menyediakan sendiri sesuai kondisi yang dimiliki,” tambahnya.
Thomas menjelaskan, pihaknya hanya memfasilitasi kegiatan dari sisi pembinaan dan penyediaan instruktur, sementara sekolah menyiapkan lokasi pelaksanaan secara mandiri. Sebagian besar kegiatan dilakukan di halaman sekolah, dan untuk skala lebih besar, Dispora juga menyiapkan stadion serta area di sekitarnya.
“Kami sedang mengupayakan pemanfaatan lahan di sekitar stadion, seperti area di sebelah Asrama 2. Rencananya itu akan digunakan untuk kegiatan panahan tradisional, tentu kalau anggarannya memungkinkan,” lanjutnya.
Lebih dari sekadar kegiatan fisik, Thomas menekankan pentingnya membangun kesadaran siswa agar mencintai olahraga tradisional sebagai bagian dari warisan budaya.
“Harapan kami ke depan, anak-anak bisa melestarikan olahraga masyarakat ini bukan karena dipaksa, tapi karena merasa membutuhkannya,” tuturnya.
Dispora berharap, ke depan, sinergi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat dapat memperkuat posisi olahraga tradisional sebagai medium pendidikan yang menyenangkan, bermakna, dan membentuk karakter generasi muda yang tangguh. (ADV)


