Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) kembali menegaskan komitmennya terhadap pembangunan yang inklusif, khususnya bagi pelajar penyandang disabilitas.
Salah satu langkah konkret yang tengah dipersiapkan adalah penyelenggaraan Pekan Paralimpik Pelajar Daerah (Pepapeda) tahun 2026.
Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga Dispora Kaltim, AA Bagus Sugiarta, menyampaikan bahwa Pepapeda merupakan bentuk pengakuan terhadap hak pelajar disabilitas untuk mengembangkan diri di bidang olahraga.
“Selama ini kami selalu berkomunikasi dengan adik-adik disabilitas, baik melalui sekolah-sekolah luar biasa (SLB) maupun komunitas. Tahun depan, kita akan kembali menggelar Pepapeda sebagai ajang bagi mereka untuk menunjukkan kemampuan,” ucap Bagus, Senin (14/07/2025).
Edisi sebelumnya, Pepapeda digelar di Kabupaten Kutai Kartanegara dan mendapat sambutan hangat dari peserta maupun masyarakat. Untuk pelaksanaan tahun 2026, Dispora Kaltim tengah menjajaki dua kota potensial sebagai tuan rumah, yakni Samarinda dan Balikpapan, dengan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur ramah disabilitas.
“Tahun lalu, kita gelar di Kukar dengan antusiasme yang luar biasa. Untuk tahun depan, kami sedang mempertimbangkan apakah akan diadakan di Samarinda atau Balikpapan. Yang jelas, lokasi dan fasilitas harus benar-benar ramah disabilitas,” jelasnya.
Dispora menegaskan bahwa Pepapeda bukan sekadar kegiatan olahraga, melainkan juga wadah membangun rasa percaya diri, solidaritas, dan pengakuan terhadap eksistensi pemuda disabilitas sebagai bagian penting dalam pembangunan daerah.
“Ini bukan hanya soal kompetisi, tapi juga soal memberikan ruang dan kesempatan yang adil bagi semua anak bangsa. Kami ingin adik-adik disabilitas merasa bahwa mereka dihargai, diakui, dan punya kesempatan yang sama untuk berprestasi,” tegasnya.
Selain olahraga modern, Dispora juga mendorong pelibatan pelajar disabilitas dalam olahraga tradisional sebagai bentuk pelestarian budaya dan media inklusi sosial. Nilai-nilai seperti kebersamaan dan kegembiraan diharapkan dapat semakin memperkuat semangat para peserta.
“Selain olahraga modern, kami juga ingin olahraga tradisional dikenalkan ke kalangan pelajar disabilitas. Karena esensi olahraga tradisional adalah kegembiraan, sportivitas, dan kebersamaan, yang bisa dirasakan semua kalangan,” tuturnya.
Untuk menyukseskan agenda ini, Dispora Kaltim menggandeng berbagai pihak mulai dari sekolah, komunitas, hingga organisasi masyarakat sipil. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi generasi muda penyandang disabilitas.
“Kami mengajak semua pihak, sekolah, komunitas, dan masyarakat untuk memberikan dukungan nyata. Mari kita ciptakan Kalimantan Timur yang ramah dan adil bagi semua, termasuk bagi para atlet disabilitas yang punya semangat luar biasa,” pungkasnya. (ADV)


