Berkat Kemudahan Perizinan, DPM-PTSP Bontang Berhasil Kejar Target Nilai Investasi

BONTANG- Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) mencatat tren perkembangan investasi berjalan maksimal.

Dimana Realisasi investasi di Bontang melebihi target pada November 2026 ini. Tercatat nilai investasi yang berputar senilai Rp821 miliar.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Aspianur mengatakan, nilai ini sudah merealisasikan 75 persen target investasi 2025 senilai Rp2,5 Triliun.

Data yang sementara masuk smester 3 dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melalui Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) nilainya masih diangka Rp821 Miliar.

“Disemester ke 3 ada Rp821 miliar. Tapi masuk lagi tambahan dari Pembangunan Pabrik Soda Ash angkanya melejit. Capai target untik 2025,” ucap Aspianur kepada awak media pada Senin (3/11/2025).

Presentasi untuk Penanaman Modal Asing (PMA) sekitar Rp32 miliar. Sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapain Rp789 Miliar.

Masih dalam catatan DPM-PTSP juga mencatat pelaku usaha non UMK tersebar ada 206 pelaku. Dalam artian mereka merupakan pelaku usaha dengan modal usaha lebih dari Rp 5 miliar.

Namun nilai invesasinya tidak termasuk tanah dan bangunan dan meliputi usaha menengah, usaha besar, kantor perwakilan, serta badan usaha luar negeri.

“Kepatuhan investasi nilainya 44 persen. Dari perputaran investasi itu menghaailkan 330 proyek. Menyerap tenaga kerja Indonesia sebanyak 307 orang. Serta pekerja asing sebanyak 10 orang,” sambungnya.

Sektor usaha dalam negeri yang banyak masuk diantaranya bidang industri kimia dasar, barang kikia dan farmasi 93 persen. Kemudian bidang transportasi, gudang, dan komunikasi ada 2,5 persen.

Posisi ketiga, jasa lainnya 1,78 persen. Keempat bidang perdagangan dan reparasi 1,36 persen. Kelika industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya 0,55 persen.

Sementara sektor modal luar negeri atau asing posisi pertama di pegang bidang usaha perumahan, kawasan industri, dan perkantoran senilai 68,8 persen.

Kedua bidang industri makanan ada 27,9 persen. Ketiga bidang industri kimia dasar, barang kikia dan farmasi 2 persen. Keempat, hotel dan restoran 0,99 persen. Kelima bidang perdagangan dan reparasi hanya 0,11 persen.

“Setiap 3 bulan akan terupdate datanya. Kami optimis akan lebihi target,” pungkasnya.

Berita Terkait

Most Popular