Atlet Disabilitas Bukan Pelengkap, Dispora Kaltim Bangun Sistem Pembinaan Setara dan Berkelanjutan

Samarinda — Di tengah upaya memperkuat ekosistem olahraga yang adil dan menyeluruh, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) mulai menghapus sekat-sekat lama dalam pembinaan atlet. Komitmen itu salah satunya diwujudkan lewat pendekatan inklusif terhadap atlet disabilitas yang kini mendapatkan porsi pembinaan dan fasilitasi setara dengan atlet non-disabilitas.

Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga Dispora Kaltim, AA Bagus Surya Saputra Sugiarta, menyatakan bahwa paradigma pembinaan di Kaltim telah bergerak menuju prinsip keadilan partisipatif, bukan sekadar integrasi simbolik.

“Tidak ada pembedaan dalam pendampingan. Atlet disabilitas kami dampingi dengan standar yang sama, sesuai dengan cabang olahraga masing-masing,” tegas Bagus, Minggu (29/6/25).

Langkah ini merupakan hasil sinergi konkret antara Dispora Kaltim dan NPCI (National Paralympic Committee Indonesia) Kaltim yang secara sistematis membangun jalur pembinaan berjenjang dan berbasis daerah. Kini, lebih dari 300 atlet disabilitas tercatat aktif dari berbagai kabupaten/kota di Kaltim, menandai tumbuhnya basis prestasi yang tersebar merata.

Capaian mereka bukan sekadar simbol inklusi. Pada gelaran Peparnas XVII/2024 di Solo, kontingen Kaltim mencatatkan lonjakan signifikan dalam klasemen nasional — naik dari posisi 15 ke 13, dengan raihan 7 emas, 13 perak, dan 17 perunggu.

“Ini bukan hanya angka. Kenaikan peringkat menunjukkan bahwa pembinaan kita mulai membuahkan hasil, dan yang lebih penting atlet disabilitas punya potensi besar yang patut diakui,” jelas Bagus.

Ia menambahkan, pengakuan terhadap atlet disabilitas bukan hanya sebatas pembinaan teknis, tetapi juga harus diwujudkan melalui bentuk apresiasi yang layak. Menurutnya, pemberian insentif dan penghargaan bagi atlet difabel yang berprestasi menjadi bagian dari sistem pembinaan yang manusiawi dan berkeadilan.

“Semangat mereka luar biasa. Mereka bukan hanya atlet, tapi juga simbol ketangguhan dan inspirasi bagi semua,” ucapnya.

Lebih dari itu, Dispora Kaltim berupaya menanamkan prinsip inklusivitas dalam seluruh rantai kebijakan olahraga daerah. Bukan sekadar memberi ruang, tetapi memastikan bahwa atlet disabilitas dilibatkan secara utuh dalam proses perencanaan, pembinaan, hingga pengambilan kebijakan strategis.

“Kita tidak sedang membangun dua sistem terpisah, tapi satu sistem yang inklusif untuk semua. Dan itu adalah wajah masa depan olahraga Kaltim,” pungkas Bagus.(ADV)

Berita Terkait

Most Popular