Home Advedtorial Bantuan Peternakan dari Distanak Jadi Solusi Ekonomi Pemuda Desa di Kukar

Bantuan Peternakan dari Distanak Jadi Solusi Ekonomi Pemuda Desa di Kukar

TENGGARONG – Bagi banyak pemuda desa di Kutai Kartanegara (Kukar), peternakan kini bukan lagi dianggap sebagai pekerjaan tradisional yang membosankan.

Berkat pendekatan berbasis komunitas yang dikembangkan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Distanak) Kukar, sektor ini mulai menjelma menjadi peluang usaha kolektif yang menarik dan menjanjikan.

Program Bantuan Ternak 2025 bukan hanya menyasar peningkatan produksi, tapi juga menghidupkan semangat wirausaha di kalangan anak muda. Melalui skema kelompok ternak pemuda, Distanak ingin membangun model usaha yang kolaboratif dan berbasis gotong royong.

“Kalau hanya andalkan individu, peternakan bisa berat. Tapi kalau digerakkan secara kolektif—dikelola bersama, modal dibagi, hasil dibagi—itu jadi kekuatan,” ujar Kabid Peternakan Distanak Kukar, Aji Gazali Rahman, Kamis (3/4/2025).

Konsep ini telah diterapkan di beberapa kecamatan seperti Tenggarong Seberang dan Sebulu. Pemuda-pemuda setempat membentuk kelompok usaha ternak, mendapat pelatihan, lalu diberi bantuan berupa bibit ternak, pakan, serta peralatan sederhana seperti mesin pencacah pakan dan kandang mini.

Menariknya, program ini juga mengintegrasikan pelatihan pengelolaan keuangan, pemasaran produk ternak, hingga pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi.

“Anak-anak muda kita latih jadi manajer usahanya sendiri. Mereka belajar cara menghitung biaya operasional, menetapkan harga, bahkan menjual domba atau ayam lewat Instagram,” jelas Aji.

Selain bantuan dari Pemkab, program ini juga disinergikan dengan dukungan provinsi, termasuk pengadaan sapi Bali dan penyuluhan intensif.

Distanak menilai pendekatan kolektif ini lebih efektif untuk membangun kepercayaan diri pemuda dan memperkuat jaringan usaha antar desa.

“Yang kita bangun bukan hanya kandang, tapi ekosistem usaha peternakan yang berbasis solidaritas dan gotong royong,” tambahnya.

Dengan pola ini, sektor peternakan tidak hanya jadi instrumen ketahanan pangan, tetapi juga lumbung ekonomi alternatif bagi generasi muda pedesaan. Mereka tidak harus hijrah ke kota untuk mencari peluang, karena desa pun bisa menjadi ladang usaha yang produktif dan membanggakan.

“Kami ingin membalik pandangan lama bahwa peternakan itu pekerjaan tua. Sekarang, justru anak mudalah yang paling siap membawa perubahan di sektor ini,” tutup Aji.

Peternakan kolektif berbasis pemuda ini diharapkan menjadi pondasi baru pembangunan ekonomi desa yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan. (*)

Exit mobile version