Samarinda – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur menegaskan bahwa organisasi merupakan wadah strategis untuk membentuk karakter dan menyiapkan generasi muda sebagai pemimpin masa depan.
Lewat organisasi, pemuda tak hanya belajar memimpin, tetapi juga dilatih berpikir kritis dan berani tampil di ruang publik.
“Organisasi itu ibarat sekolah kepemimpinan. Di situ mental dan karakter kita ditempa, termasuk keberanian untuk tampil dan berbicara di hadapan banyak orang,” jelas Analis Muda Bidang Pemberdayaan Pemuda Dispora Kaltim, Hasbar Mara, Kamis (10/07/2025).
Ia menuturkan, organisasi adalah bagian penting dari pendidikan non-formal yang memberikan pengalaman langsung dalam bekerja sama, menyikapi perbedaan, serta menyelesaikan konflik.
Keterlibatan dalam organisasi, kata dia, juga berdampak besar terhadap peningkatan kemampuan komunikasi dan kepemimpinan.
“Pemuda yang aktif di organisasi akan lebih terlatih dalam berpikir kritis, berkomunikasi, dan memimpin. Ini akan menjadi bekal penting bagi mereka ke depannya, baik di dunia kerja maupun dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.
Dispora Kaltim menyadari bahwa dinamika dalam organisasi tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan karakter kerap menjadi pemicu konflik. Namun, Hasbar menilai bahwa hal tersebut justru menjadi bagian dari proses pembelajaran.
“Wajar jika dalam organisasi ada satu atau dua orang yang memicu konflik. Tapi ini bagian dari proses pembelajaran. Dari situ kita belajar menghargai perbedaan dan menyikapi masalah dengan dewasa,” katanya.
Ia menambahkan, organisasi juga memainkan peran penting dalam menumbuhkan sikap toleran dan kemampuan berpikir solutif, yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sosial.
Untuk itu, Dispora Kaltim terus membuka ruang partisipasi bagi pemuda dari berbagai latar belakang agar terlibat dalam organisasi, baik di sekolah, perguruan tinggi, komunitas, maupun lembaga kepemudaan lokal.
“Kami ajak semua pemuda, tanpa terkecuali. Organisasi bukan soal eksklusivitas, melainkan ruang belajar bersama. Yang terpenting adalah kemauan untuk berkembang dan belajar,” terangnya.
Menurutnya, meski ada pemimpin yang lahir secara alami, namun pengalaman berorganisasi tetap menjadi modal utama dalam membentuk karakter kepemimpinan yang matang dan visioner.
“Partisipasi dalam organisasi sejalan dengan Indeks Pembangunan Pemuda, khususnya di domain partisipasi dan kepemimpinan. Ini bukan hanya tentang menjadi anggota, tapi bagaimana organisasi mencetak pemuda-pemuda yang mampu membawa perubahan,” lanjutnya.
Hasbar berharap pemuda di Kalimantan Timur tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut serta menjadi aktor dalam pembangunan melalui peran aktif di organisasi.
Melalui pembinaan yang tepat, ia optimistis generasi muda Kaltim dapat tumbuh menjadi sosok yang cerdas, tangguh, dan berintegritas.
“Lewat organisasi, pemuda bisa belajar banyak hal yang tidak diajarkan di ruang kelas. Kami yakin, pemuda Kaltim mampu menjadi motor perubahan jika diberi ruang dan kesempatan,” pungkasnya.(ADV)


