Samarinda – Di tengah derasnya arus budaya populer dan dominasi olahraga modern, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur (Kaltim) menyuarakan keprihatinan atas potensi terkikisnya olahraga tradisional dari kehidupan generasi muda.
Meski masih memiliki tempat tersendiri di hati sebagian masyarakat, keberadaan olahraga tradisional dinilai rawan tergerus jika tidak disertai dengan upaya pelestarian yang berkelanjutan.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Seksi Olahraga dan Rekreasi Tradisional Dispora Kaltim, Thomas Alva Edison. Ia menegaskan bahwa olahraga tradisional bukan sekadar permainan, melainkan bagian dari warisan budaya yang memuat nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, sportivitas, dan identitas lokal.
“Di tengah gempuran budaya populer dan olahraga modern, olahraga tradisional masih punya tempat di hati masyarakat. Tapi tanpa sosialisasi yang konsisten, potensi ini bisa perlahan hilang, terutama dari generasi muda,” ujar Thomas, Rabu (25/6/2025).
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Dispora Kaltim memanfaatkan skema anggaran yang fleksibel secara bijak. Dana ini digunakan untuk menjalankan program-program sosialisasi yang langsung menyentuh masyarakat, terutama mereka yang tinggal di daerah dengan akses terbatas terhadap kegiatan kebudayaan dan olahraga alternatif.
Menurut Thomas, pendekatan ini tidak hanya efektif menjangkau wilayah yang belum tersentuh program reguler, tetapi juga menjadi bentuk nyata dari kehadiran pemerintah dalam melestarikan budaya lokal secara langsung bersama masyarakat.
“Kami arahkan anggaran untuk kegiatan yang benar-benar hidup di tengah masyarakat. Bukan hanya seremonial, tapi yang bisa membangkitkan kembali kebanggaan terhadap budaya sendiri,” tuturnya.
Dengan langkah ini, Dispora Kaltim berharap olahraga tradisional kembali mendapatkan ruang di tengah masyarakat tidak hanya sebagai tontonan sesekali, tetapi sebagai kegiatan yang aktif dilibatkan dalam keseharian, terutama di kalangan anak-anak dan remaja. (ADV)


