
SAMARINDA – Ketimpangan dalam distribusi perhatian terhadap pembinaan atlet menjadi perhatian serius Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur (Kaltim). Menurut mereka, pendekatan pengembangan olahraga yang selama ini cenderung tersentralisasi di kota-kota besar menjadi penghambat kemunculan potensi luar biasa dari daerah.
Kepala Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Dispora Kaltim, Rasman Rading mengungkapkan bahwa banyak talenta muda di daerah yang masih belum mendapatkan akses pembinaan secara maksimal akibat minimnya jangkauan kebijakan dari pemerintah pusat.
“Bakat atletik itu tersebar luas di seluruh Indonesia, tidak hanya di wilayah-wilayah besar. Sayangnya, banyak daerah belum tersentuh program pembinaan yang memadai,” ujar Rasman, Sabtu (17/5/2025).
Ia menegaskan bahwa pendekatan desentralisasi dalam pengembangan olahraga harus segera diterapkan, agar kesempatan bagi atlet daerah untuk berkembang tidak terus terabaikan.
“Kami mendorong Kemenpora agar lebih aktif menjangkau seluruh penjuru negeri. Jangan hanya berpusat di ibu kota atau kota besar lainnya,” katanya.
Menurut Rasman, penyebaran program pembinaan secara merata ke seluruh daerah akan menciptakan ekosistem olahraga yang lebih inklusif, mencerminkan semangat kebhinekaan Indonesia.
“Pembinaan harus dijalankan secara merata. Ini bukan hanya soal keadilan, tapi juga tentang memperkuat karakter olahraga nasional kita yang beragam,” imbuhnya.
Ia juga menambahkan bahwa dengan komitmen pemerintah yang menyeluruh, Indonesia tidak hanya akan mampu melahirkan lebih banyak atlet tangguh, tetapi juga menciptakan sistem olahraga yang berkelanjutan dari tingkat lokal hingga nasional.
“Kalau semua wilayah diberi ruang yang sama, saya yakin Indonesia bisa punya fondasi olahraga yang jauh lebih kuat ke depannya,” tutupnya.
Dispora Kaltim menegaskan bahwa keterlibatan daerah dalam peta besar pembinaan olahraga nasional bukan lagi kebutuhan sekunder, melainkan keharusan demi kemajuan prestasi olahraga Tanah Air. (Adv)