
Samarinda – Dispora Kaltim terus menghidupkan olahraga tradisional sebagai upaya merawat identitas budaya di tengah arus digitalisasi dan dominasi budaya global, dengan menggandeng komunitas lokal agar permainan rakyat tetap menjadi bagian dari kehidupan generasi muda.
Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga Dispora Kaltim, AA Bagus Sugiarta, menjelaskan bahwa kemitraan ini bukan sekadar program formal, melainkan hasil dari semangat bersama untuk melestarikan warisan budaya bangsa.
“Kami bermitra dengan komunitas olahraga tradisional seperti engrang, menyumpit, juga dengan komunitas sepeda ontel, BMX, dan pushbike (sepeda kecil untuk anak-anak). Kemitraan ini kami jaga terus agar olahraga tradisional tidak hanya dikenang, tapi terus dimainkan dan dicintai,” ujar Bagus, Senin (14/07/2025).
Ia menyebut, komunitas-komunitas tersebut aktif menyelenggarakan kegiatan di ruang publik seperti Teras Samarinda dan Taman Cerdas, serta rutin tampil dalam berbagai festival. Bahkan, mereka turun langsung ke sekolah-sekolah setiap minggu untuk memperkenalkan permainan tradisional kepada anak-anak.
“Karena kami bermitra, mereka rutin melakukan sosialisasi di berbagai event, baik yang digelar pemerintah maupun swasta. Bahkan beberapa komunitas juga aktif masuk ke sekolah-sekolah setiap minggunya untuk mengenalkan olahraga tradisional secara langsung kepada anak-anak,” jelasnya.
Dispora Kaltim memberikan dukungan berupa fasilitas latihan dan bantuan logistik untuk mendukung keberlangsungan kegiatan komunitas. Program seperti parade sepeda hias dan fun bike turut digelar secara rutin untuk memperluas jangkauan serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya gaya hidup aktif.
“Kami siapkan semua fasilitasnya, mulai dari lokasi latihan hingga dukungan logistik jika dibutuhkan. Karena prinsipnya, kami ingin olahraga ini berkembang bukan hanya di kalangan komunitas, tapi bisa menjangkau masyarakat yang lebih luas,” tambahnya.
Meski didukung oleh pemerintah, kekuatan utama gerakan ini justru terletak pada semangat sukarela dari para pegiat komunitas. Mereka rela menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya pribadi demi memastikan permainan tradisional tidak dilupakan oleh generasi sekarang.
“Kami mengajak seluruh masyarakat, khususnya pemuda, untuk mencintai olahraga tradisional. Ini bukan sekadar olahraga, ini adalah bagian dari budaya, jati diri, dan kebanggaan kita sebagai bangsa. Mari kita jaga bersama agar tidak hilang ditelan zaman,” pungkasnya. (ADV)