Samarinda – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur (Kaltim) tak lagi membina generasi muda hanya lewat pelatihan teknis. Kini, pendekatan yang diambil jauh lebih komprehensif menggabungkan penguatan karakter, mentalitas, hingga keterampilan lunak untuk membentuk pemuda yang adaptif dan berdaya saing di tengah tantangan zaman.
Analis Kebijakan Ahli Muda Bidang Pemberdayaan Pemuda Dispora Kaltim, Hasbar, mengungkapkan bahwa strategi pembinaan saat ini difokuskan dalam dua klaster utama pengembangan dan pemberdayaan. Keduanya disusun sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi dan diterapkan secara berurutan, bukan terpisah.
“Pemberdayaan lebih dulu dengan fokus pada pembentukan karakter dan soft skill, baru kemudian pengembangan yang berisi pelatihan teknis. Tujuannya agar peserta tidak hanya siap kerja, tapi juga siap mental,” kata Hasbar, Selasa (24/6/25).
Program ini menargetkan total 8.000 peserta, terdiri dari 5.000 untuk klaster pengembangan dan 3.000 pada klaster pemberdayaan. Materi yang disiapkan pun luas, mulai dari kepemimpinan, komunikasi, hingga kerja sama tim, sebelum masuk ke pelatihan berbasis minat dan kebutuhan dunia kerja.
Lebih dari sekadar mencetak tenaga kerja terampil, Dispora menekankan pentingnya membentuk generasi muda yang memiliki kepedulian sosial dan daya tahan psikologis.
“Kami ingin pemuda yang tidak hanya cerdas, tapi juga punya empati dan tangguh menghadapi tekanan,” tuturnya.
Di tengah implementasi program, Dispora juga menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait pemerataan. Infrastruktur yang belum memadai di sejumlah daerah menjadi kendala dalam pendistribusian program.
Namun, Dispora memastikan kebutuhan dasar peserta tetap menjadi prioritas.
“Kami tetap berupaya memenuhi kebutuhan logistik dan konsumsi peserta agar program berjalan optimal, meskipun fasilitas belum merata,” ujarnya.
Menariknya, Dispora Kaltim secara khusus menjadikan kalangan mahasiswa sebagai salah satu sasaran utama. Menurut Hasbar, kelompok ini memiliki peran strategis dalam mendorong perubahan sosial.
“Mahasiswa punya posisi penting sebagai agen perubahan. Kalau dibekali karakter yang kuat, mereka bisa membawa pengaruh besar di komunitasnya,” jelasnya.
Hasbar menegaskan, keberhasilan pembinaan pemuda tidak sekadar diukur dari berapa banyak pelatihan yang diberikan, melainkan seberapa besar perubahan perilaku dan kontribusi nyata dari para peserta dalam kehidupan masyarakat.
“Kami ingin mencetak pelaku pembangunan, bukan sekadar pengamat. Generasi muda harus punya visi, empati, dan keberanian mengambil peran nyata dalam membangun daerah,” pungkasnya.(ADV)


