KALTIMNUSANTARA.COM, Anggota DPRD Kaltim Marthinus ungkapan pentingnya wawasan kebangsaan untuk terus di kampanyekan dalam semua kelompok masyarakat.
Hal ini disampaikannya pada Sosialisasi Kebangsaan (Sosbang) yang dilaksanakan di Kampus Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda pada, Sabtu 29 Oktober 2022.
Menurut politisi PDI Perjuangan ada 4 konsensus kebangsaan yang mesti dipahami.
Yang pertama tentang pancasila ini adalah dasar negara yang didalamnya ada 5 dasar yang harus benar benar dipahami.
Yang kedua adalah UUD 1945 yang menjadi dasar hukum. Yang ketiga adalah bhineka tunggal ika.
“Kita beragam suku tapi satu jua. Dalam bhineka tunggal ika kita bisa belajar bagaimana kita menghormati beda agama, suku ras,” ucap Wakil Rakyat Daerah Pemilihan Kubar Mahulu ini.
Kemudian adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus diresapi oleh masyarakat Indonesia.
“Jangan terjadi kayak di Papua, mereka bagian NKRI tapi sekarang kenapa mau memerdekakan diri sendiri,” ucapnya.
Dirinya berharap adanya Sosbang ini mampu membumikan kembali wawasan kebangsaan dan lebih mencintai bangsa dan negara Indonesia.
Sementara itu Dosen UINSI Samarinda Hudriansyah mengungkapkan hasil survei singkat yang dilakukan dikelas terkait pemahaman keagamaan mahasiswa baru.
“Hasilnya sangat mengejutkan,”ucapnya.
Karena angkanya cukup tinggi ada sekitar 40 persen yang menganggap bahwa ideologi negara masih bisa diubah dengan ideologi yang berlandaskan agama.
Atau Pancasila diyakini masih bisa diubah bukan sesuatu yang final. Meskipun memang bukan banyak angkanya tapi itu cukup menjadi alarm.
“Bahwa dikalangan mahasiswa saja masih ada yang punya komitmen kebangsaan yang perlu diperkuat. Makanya saya melihat kegiatan ini penting untuk memperkuat wawasan mahasiswa yang berkaitan dengan 4 konsensus berbangsa,” ucapnya.
Dirinya melanjutkan terkait tantangan dalam upaya menjaga komitmen kebangsaan yakni
3 tantangan besar.
Pertama dari kelompok yang cenderung ekstrim dan memaksakan agamanya terhadap kelompok lain.
Kemudian ada kelompok kecenderungan merasa paling benar sehingga berusaha menyingkirkan kelompok lain .
Dan yang paling mengkhawatirkan adalah hadirnya kelompok yang coba mempertentangkan ajaran agama dengan ideologi negara. Antara agama dan pancasila.
“Yang perlu dibela bukan pancasila nya tapi membela agama. Itu sebetulnya jelas nyata terjadi di hadapan kita,” katanya.
Dirinya menjeladjan meskipun kelompok Hisbut Tahrir Indonesia (HTI) sudah dibubarkan tapi eks hti masih bermunculan dengan bentuk baru dan gagasannya tidak berubah.
“Sehingga saya menawarkan bagaimana kemudian kita memahami hubungan antara agama dan pancasila bahwa basis kita adalah kebhinekaan.
Kebhinekaan itu beragam. Dan beragam itu justru harus jadi perekat kita bukan justru menjadi alat pemecah belah,” tutupnya.


