Home Advedtorial Gerakan Pangan Murah Kukar Jadi Pilar Ketahanan Pangan dari Akar Rumput

Gerakan Pangan Murah Kukar Jadi Pilar Ketahanan Pangan dari Akar Rumput

TENGGARONG – Di tengah dinamika harga pangan yang fluktuatif, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus mengokohkan fondasi ketahanan pangan melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM).

Bukan sekadar pasar alternatif, GPM telah tumbuh menjadi strategi jangka panjang Pemkab Kukar dalam menciptakan sistem pangan yang adil, merata, dan tangguh menghadapi gejolak ekonomi maupun iklim.

“Ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan stok, tapi juga keterjangkauan dan keadilan distribusi. Itu yang jadi fokus utama kami lewat GPM,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kukar, Sutikno, Kamis (3/4/2025).

Dengan memangkas rantai distribusi panjang, GPM memastikan petani lokal bisa menjual hasil panen secara langsung kepada konsumen tanpa peran tengkulak yang kerap menekan harga. Di sisi lain, masyarakat mendapatkan bahan pangan pokok dengan harga lebih terjangkau.

“GPM ini adalah sistem perlindungan ganda—melindungi petani sebagai produsen, dan masyarakat sebagai konsumen. Dua-duanya dapat manfaat,” tambah Sutikno.

Kegiatan GPM digelar rutin di berbagai titik, mulai dari kecamatan hingga kawasan pusat kota. Lokasinya dipilih berdasarkan potensi kerawanan pangan dan daya beli masyarakat. Hal ini membuat GPM bukan hanya program ekonomi, tapi juga intervensi sosial yang tepat sasaran.

Menurut Sutikno, ketahanan pangan lokal hanya bisa tercapai jika petani didorong untuk terus memproduksi, sementara pasar dijamin tetap menyerap hasil mereka dengan harga wajar. Itulah mengapa GPM juga didukung dengan pelatihan manajemen hasil panen, penentuan harga, dan promosi digital.

Disketapang Kukar juga menjadikan GPM sebagai sarana uji coba inovasi pangan lokal. Komoditas baru dari petani, seperti beras organik, aneka olahan pangan tradisional, hingga produk berbasis hasil hutan non kayu, diperkenalkan langsung ke publik melalui kegiatan ini.

“Ketahanan pangan bukan sebatas logistik. Ia harus terintegrasi dengan budaya makan, inovasi lokal, dan penguatan kapasitas petani kita,” jelas Sutikno.

Ke depan, GPM akan diperluas ke wilayah-wilayah dengan potensi rawan pangan, sekaligus diperkuat lewat kolaborasi antar OPD dan lembaga pendidikan. Langkah ini diharapkan mampu membangun ekosistem pangan Kukar yang mandiri dan berdaya saing tinggi.

Dengan pendekatan partisipatif dan berkelanjutan, Gerakan Pangan Murah bukan hanya alat stabilisasi harga—tetapi garda terdepan Kukar dalam mewujudkan kedaulatan pangan dari bawah ke atas. (*)

Exit mobile version