Kelurahan Melayu Jaga Semangat Gotong Royong di Program Bedah Rumah

TENGGARONG – Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) yang tengah dilaksanakan di Kelurahan Melayu, Tenggarong, bukan hanya sebuah proyek pembangunan fisik, tapi juga momentum penting membangun kembali nilai-nilai sosial masyarakat.

Di balik renovasi 36 rumah warga berpenghasilan rendah, terselip kisah kebersamaan dan gotong royong yang menguatkan ikatan antarwarga.

Lurah Melayu, Aditiya Rakhman, menyampaikan bahwa BSPS memang dirancang dengan pendekatan partisipatif.

Warga penerima manfaat tidak hanya pasif menerima bantuan, tetapi turut dilibatkan sejak perencanaan hingga proses pembangunan.

“Warga ikut serta, dari menyiapkan bahan, membantu proses pengerjaan ringan, sampai menjaga lingkungan sekitar proyek. Ini bukan proyek kontraktor besar, tapi proyek gotong royong berbasis masyarakat,” ujar Aditiya, Senin (24/3/2025).

Menurutnya, salah satu kekuatan dari BSPS adalah tumbuhnya rasa kepemilikan terhadap rumah dan lingkungan. Berbeda dari program bantuan lainnya, BSPS mendorong swadaya, baik tenaga maupun dukungan moral antarwarga.

Namun program ini juga dihadapkan pada tantangan. Sebanyak 18 kepala keluarga yang semula masuk dalam daftar penerima, ternyata harus dialihkan karena tinggal di kawasan rawan bencana—yakni bantaran Sungai Kartini.

“Kami memahami kekecewaan warga, tapi ini soal keselamatan jangka panjang. Wilayah tersebut tidak bisa lagi dibangun secara permanen karena masuk zona merah. Maka bantuan kami alihkan ke warga kurang mampu lainnya yang juga tercatat di DTKS,” jelasnya.

Keputusan itu disampaikan langsung kepada warga dengan pendekatan persuasif, dan sebagian besar memahami alasan pemerintah. Langkah ini dinilai sebagai bentuk tanggung jawab terhadap keberlanjutan pembangunan dan keselamatan warga.

Lebih dari sekadar program infrastruktur, BSPS di Kelurahan Melayu mencerminkan upaya menghadirkan keadilan spasial—di mana bantuan dan pembangunan tidak hanya difokuskan di pusat kota atau kawasan elit, melainkan juga menyentuh wilayah pinggiran yang selama ini luput dari perhatian.

“Pemerataan pembangunan itu penting. Jangan sampai ada warga yang merasa ditinggalkan hanya karena tinggal di daerah padat atau sulit dijangkau. Justru mereka yang harus kita prioritaskan,” tegas Aditiya.

Ke depan, pihak kelurahan juga tengah menjajaki model pendampingan lanjutan bagi warga yang telah menerima bantuan, seperti pelatihan sanitasi keluarga, pengelolaan air bersih, dan pembinaan rumah sehat.

“Kita tidak ingin rumahnya hanya bagus di awal. Tapi benar-benar layak, sehat, dan nyaman untuk jangka panjang,” tutup Aditiya.

Program BSPS di Kelurahan Melayu menjadi gambaran bagaimana pembangunan yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat bisa menjadi pemantik perubahan—bukan hanya secara fisik, tapi juga secara sosial dan spiritual. (*)

Berita Terkait

Most Popular