Kukar Kembangkan Tujuh Kawasan Pertanian, Ayam Petelur Jadi Program Pendukung

KUKAR – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyiapkan pengembangan sektor pertanian dan peternakan melalui penambahan kawasan pengembangan pertanian serta program budidaya ayam petelur.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Rifani, mengatakan kawasan pengembangan pertanian yang sebelumnya berjumlah lima akan bertambah menjadi tujuh kawasan.

“Kalau kawasan pengembangan, ada dua tambahan. Satu di Rapak Lambur dan satu lagi di sekitar Jonggon. Di Jonggon, hamparannya sudah lebih dari 1.000 hektare,” ujar Rifani, Selasa (20/10/2026)

Ia menyebut penetapan kawasan pengembangan pertanian mempertimbangkan luasan hamparan lahan yang tersedia. Kawasan dengan hamparan lebih dari 1.000 hektare menjadi pertimbangan dalam pengembangan tersebut.

Namun, perluasan kawasan pertanian juga perlu diimbangi dengan ketersediaan infrastruktur pendukung. Distanak Kukar tetap mendorong pembangunan irigasi dan jalan usaha tani untuk menunjang aktivitas petani di lapangan.

“Untuk irigasi dan jalan usaha tani tetap berjalan. Kebutuhannya masih harus dipenuhi karena rasio infrastruktur yang tersedia belum mencukupi,” jelasnya.

Selain pengembangan tanaman pangan, Distanak Kukar juga menyiapkan program peternakan ayam petelur di sejumlah kecamatan. Wilayah yang masuk dalam rencana pengembangan di antaranya Kota Bangun, Muara Muntai, Kota Bangun Darat, Loa Janan, dan Loa Kulu.

Rifani menyebutkan, jumlah ayam yang akan dikembangkan masih dalam tahap penghitungan. Pemerintah daerah terlebih dahulu mempertimbangkan kebutuhan program serta skema pengadaan ternak yang akan diterapkan.

Dalam program tersebut, ayam yang dipilih direncanakan berupa pullet atau ayam dara yang mendekati masa produksi, bukan anak ayam atau Day Old chick (DOC). Pilihan ini diharapkan dapat memperpendek waktu pemeliharaan sebelum ayam mulai menghasilkan telur.

“Jumlahnya masih kami hitung. Rencananya menggunakan pullet, bukan DOC, sehingga dalam beberapa bulan pemeliharaan sudah bisa mulai berproduksi,” ungkap Rifani.

Selama ini, kata Rifani, pasokan telur masih banyak didatangkan dari luar daerah. Dengan pengembangan peternakan lokal, ia berharap produksi telur dapat semakin dekat dengan konsumen dan memiliki tingkat kesegaran yang lebih baik.

“Pasarnya kita lihat karena telur masih banyak didatangkan dari luar. Kalau diproduksi sendiri di daerah, keunggulannya telur bisa lebih segar karena dihasilkan secara lokal,” tandas Rifani. (Adv)

Berita Terkait

Most Popular