![]()
KUTAI TIMUR – Tak hanya duduk di balik meja, Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, memilih turun langsung ke pelosok. Wabup memimpin perjalanan darat dari Rantau Pulung menuju kawasan pedalaman seperti Batu Ampar dan Muara Bengkal.
Di tengah perjalanan, Mahyunadi turun langsung memeriksa pengerjaan jalan poros yang dikerjakan secara swakelola oleh Dinas PUPR Kutim. “Ini swakelola ya? Pastikan kualitasnya sesuai,” ujarnya kepada Kabid Bina Marga, Wahasuna Aqla.
Sistem swakelola memungkinkan pengerjaan oleh kelompok masyarakat atau perangkat desa, tanpa lelang ke kontraktor. Meski efisien, Mahyunadi menekankan pentingnya mutu. Jalan yang buruk bukan hanya hambatan logistik, tapi juga akses ekonomi dan pendidikan bagi warga pedalaman.
Kunjungan Mahyunadi berlanjut hingga Muara Bengkal pukul 20.00 WITA. Agenda dilanjutkan keesokan hari menuju Senambah, Senyiur, dan Long Bentuk—desa yang kerap terisolasi saat musim hujan.
Senyiur dan Senambah merupakan dua desa yang menyimpan potensi ekonomi besar di Kutim. Dikenal sebagai sentra penghasil komoditas unggulan seperti kelapa sawit dan karet, kedua wilayah ini menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat setempat. Namun, buruknya infrastruktur jalan sempit, rusak, dan tidak beraspal membuat distribusi hasil panen ke pasar atau pabrik pengolahan membutuhkan waktu dan biaya tinggi.
Kondisi serupa juga terjadi di Long Bentuk, sebuah desa di pedalaman yang hingga kini belum memiliki akses jalan beraspal. Warga setempat harus melintasi jalan tanah yang rawan berlumpur saat musim hujan, hanya untuk mencapai kecamatan terdekat. Ketika curah hujan tinggi, kendaraan sering terjebak dan distribusi logistik terhenti. Situasi ini bukan hanya menghambat aktivitas ekonomi, tetapi juga menyulitkan warga untuk mendapatkan layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan.
Bottom of Form
Mahyunadi menganggap blusukan ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Evaluasi langsung seperti ini menjadi dasar merancang program infrastruktur 2026. “Kalau pembangunan tak menyentuh desa, maka tujuan besar daerah ini takkan tercapai,” tegasnya. (ADV/ProkopimKutim/KN)


