Home Advedtorial Masih Banyak Miskonsepsi Soal Vaksin, Dinkes Kaltim Tekankan Pentingnya Edukasi tentang Zat...

Masih Banyak Miskonsepsi Soal Vaksin, Dinkes Kaltim Tekankan Pentingnya Edukasi tentang Zat Kimia

Samarinda – Kurangnya pemahaman mengenai zat kimia masih menjadi salah satu penyebab utama munculnya penolakan terhadap vaksinasi di tengah masyarakat.

Banyak warga yang lebih memilih pengobatan herbal karena dianggap lebih alami dan aman, tanpa menyadari bahwa baik bahan herbal maupun vaksin sama-sama terdiri dari senyawa kimia.

Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, Jaya Mualimin, menyampaikan bahwa salah kaprah mengenai istilah “kimia” menjadi akar dari ketakutan sebagian masyarakat terhadap vaksin.

Ia menegaskan bahwa anggapan semua zat kimia berbahaya tidaklah benar, sebab seluruh benda di sekitar manusia termasuk air, makanan, hingga tanaman herbal terdiri dari senyawa kimia.

“Air yang setiap hari kita konsumsi adalah senyawa kimia, dengan rumus H2O. Hanya saja ketika disebutkan dalam bentuk rumus, masyarakat justru menganggapnya berbahaya. Padahal air adalah contoh paling sederhana dari zat kimia yang bermanfaat,”ujar Jaya.

Ia menjelaskan, anggapan bahwa produk herbal tidak mengandung zat kimia adalah keliru.

Semua bahan alami, termasuk tumbuh-tumbuhan yang digunakan dalam pengobatan tradisional, juga tersusun dari berbagai unsur kimia.

“Label ‘herbal’ seringkali dianggap seolah-olah bebas dari zat kimia. Padahal kenyataannya, semua benda di alam ini, baik alami maupun buatan, terbentuk dari unsur-unsur kimia,”terangnya.

Lebih lanjut, Jaya menekankan bahwa bukan kandungan kimianya yang membahayakan, tetapi cara penggunaan serta dosisnya yang menentukan apakah suatu zat memberi manfaat atau justru berisiko bagi kesehatan.

“Setiap yang kita konsumsi, mulai dari air minum hingga obat-obatan modern, semuanya merupakan hasil dari proses kimia yang telah melalui kajian keamanan dan efektivitas,”jelasnya.

Ia juga menyoroti tuduhan dari sebagian kalangan yang menilai vaksin hanya sebagai produk komersial.

Menurutnya, tudingan tersebut tidak berdasar dan muncul akibat minimnya edukasi tentang pentingnya imunisasi sebagai langkah preventif dalam menjaga kesehatan masyarakat.

“Vaksin bukan sekadar produk, melainkan bagian dari kebijakan kesehatan publik yang terbukti mampu menyelamatkan jutaan nyawa,”tegas Jaya.

Vaksin, lanjutnya, bekerja dengan cara memperkenalkan tubuh pada mikroorganisme yang telah dilemahkan.

Hal ini bertujuan untuk membentuk kekebalan sejak dini, agar tubuh siap melawan penyakit apabila benar-benar terpapar di kemudian hari.

“Dengan vaksinasi, sistem imun anak-anak akan mengenali penyakit tertentu lebih awal dan membentuk perlindungan sebelum infeksi terjadi,”katanya.

Untuk membantu masyarakat lebih mudah memahami cara kerja vaksin, Jaya memberikan ilustrasi sederhana.

Ia menyamakan proses vaksinasi dengan pertemuan berulang antara dua individu semakin sering bertemu, semakin mudah mengenali satu sama lain.

“Kalau baru bertemu sekali mungkin belum dikenali. Tapi setelah beberapa kali bertemu, dari kejauhan pun sudah bisa dikenali. Begitu pula dengan sistem kekebalan tubuh kita saat mengenali kuman yang telah diperkenalkan melalui vaksin,”tutupnya.

(adv/diskominfokaltim).

Exit mobile version