Home Advedtorial Olahraga Tradisional Dijadikan Sarana Edukasi dan Kesehatan oleh Dispora Kaltim

Olahraga Tradisional Dijadikan Sarana Edukasi dan Kesehatan oleh Dispora Kaltim

SAMARINDA – Mendorong pola hidup sehat sambil merawat akar budaya, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur (Kaltim) kini menempatkan olahraga tradisional sebagai salah satu instrumen penting dalam pembangunan masyarakat.

Langkah ini sekaligus menjadi alternatif menyenangkan untuk menjaga kebugaran sembari menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan leluhur.

Menurut Bagus Sugiarta, Kepala Bidang Pemberdayaan Olahraga Dispora Kaltim, pendekatan baru ini tidak semata bertumpu pada capaian prestasi, tetapi juga pada nilai-nilai sosial dan budaya yang terkandung di dalam setiap bentuk permainan tradisional.

“Olahraga tradisional menyimpan kekuatan dalam membangun ikatan sosial, serta menjadi bentuk aktivitas fisik yang menyenangkan dan mudah diakses semua kalangan,” ujarnya, Minggu (18/5/2025).

Untuk mewujudkan hal tersebut, Dispora akan memperluas sinergi dengan berbagai komunitas serta organisasi keolahragaan. Salah satu fokusnya adalah mengintensifkan penyelenggaraan event olahraga tradisional di berbagai kabupaten dan kota di Kaltim.

“Melalui pendekatan ini, kami ingin menumbuhkan kembali kecintaan masyarakat terhadap aktivitas fisik yang berakar pada budaya lokal. Ini bagian dari gerakan hidup sehat yang relevan dengan konteks sosial kita,” tambah Bagus.

Lebih dari sekadar pelestarian, pengenalan olahraga tradisional juga diarahkan sebagai upaya edukatif. Dispora ingin membangun kesadaran bahwa olahraga lokal bukan hanya bentuk hiburan, tetapi juga solusi praktis dan murah untuk menjaga tubuh tetap bugar.

Sebagai bagian dari rencana pengembangan, Dispora Kaltim tengah merancang kunjungan ke Yogyakarta. Provinsi tersebut dianggap berhasil memosisikan olahraga tradisional sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat dan program pembangunan daerah.

“Melalui studi banding ini, kami berharap bisa membawa pulang praktik baik yang bisa diterapkan di Kaltim, terutama dalam hal manajemen kegiatan dan partisipasi publik,” tutup Bagus.

Dengan pendekatan kolaboratif dan visi yang menyeluruh, olahraga tradisional di Kaltim diharapkan tidak hanya menjadi simbol budaya, tapi juga media transformasi gaya hidup sehat dan partisipatif di tengah masyarakat yang semakin majemuk. (Adv)

Exit mobile version