TENGGARONG – Lurah Loa Ipuh, Erri Suparjan, tak hanya sibuk mengubah lahan terbengkalai menjadi produktif, tetapi juga aktif mendorong keterlibatan generasi muda dalam transformasi pertanian modern.
Baginya, pertanian tak boleh lagi dianggap kuno—justru harus menjadi karier menjanjikan dengan dukungan teknologi.
“Anak muda hari ini tumbuh dengan gadget, bukan cangkul. Tapi kita bisa padukan keduanya. Pertanian digital itu nyata dan sudah bisa diterapkan, bahkan di kelurahan seperti Loa Ipuh,” kata Erri penuh optimisme.
Ia menyebut penggunaan drone, sistem irigasi otomatis, hingga pemasaran hasil panen secara online sebagai bagian dari strategi menarik minat generasi milenial.
Tidak sedikit anak muda yang kini mulai melihat potensi pertanian bukan sekadar kerja lapangan, tapi sebagai usaha modern berbasis teknologi.
Pemerintah kelurahan pun bersiap memfasilitasi berbagai pelatihan, mulai dari teknik pertanian berkelanjutan, pengenalan teknologi pertanian, hingga pemasaran produk secara digital.
“Petani masa depan harus punya skill baru. Bukan cuma bisa menanam, tapi juga bisa branding, menjual, dan memanfaatkan teknologi. Kita ingin ada petani yang juga konten kreator, yang bisa memperkenalkan hasil panennya di media sosial,” tambah Erri, Senin (24/3/2025).
Lebih jauh, Erri membuka wacana pembentukan kelompok tani milenial dan koperasi berbasis digital. Ia berharap kolaborasi antara anak muda, pemerintah, dan komunitas lokal bisa menjadi fondasi baru pertanian urban di Kukar.
Jika berhasil, bukan tidak mungkin Loa Ipuh akan menjadi pionir agrowisata dan pertanian cerdas di wilayah Tenggarong—sebuah bukti bahwa desa dan kelurahan bisa jadi pusat inovasi tanpa harus meninggalkan akar lokalnya.
“Pertanian ini soal masa depan. Kalau kita bisa menumbuhkan petani muda hari ini, kita sedang menanam harapan untuk Kukar besok,” tutupnya. (*)


