Home Advedtorial Perubahan Iklim Ubah Pola Tanam, Kukar Respons Cepat Lewat Percepatan LTT Padi

Perubahan Iklim Ubah Pola Tanam, Kukar Respons Cepat Lewat Percepatan LTT Padi

TENGGARONG – Perubahan iklim global mulai dirasakan dampaknya secara langsung di sektor pertanian. Di Kutai Kartanegara (Kukar), pergeseran musim tanam menjadi tantangan serius yang menuntut strategi adaptif dari pemerintah daerah.

Salah satu langkah responsif yang kini dilakukan adalah percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) padi, yang diharapkan menjadi solusi menjaga stabilitas pangan di tengah kondisi cuaca yang semakin tidak menentu.

Hal ini mengemuka dalam audiensi antara Bupati Kukar Edi Damansyah dan Direktorat Perbenihan Hortikultura Kementerian Pertanian RI, Selasa (18/3/2025).

Dalam pertemuan tersebut, Direktur Perbenihan Hortikultura, Dr. Inti Pertiwi Nashwari, menyoroti perubahan pola musim tanam di Kalimantan Timur, yang kini bergeser dari Oktober–November ke Desember–Mei.

“Musim tanam kita berubah. Ini bukan situasi biasa, tapi dampak langsung dari perubahan iklim. Kukar sebagai salah satu wilayah potensial pertanian harus cepat beradaptasi, salah satunya melalui percepatan tanam,” ujar Dr. Inti.

Bupati Kukar Edi Damansyah merespons cepat arahan tersebut dengan menegaskan bahwa Pemkab Kukar telah menyiapkan strategi adaptif untuk memastikan target tanam tetap tercapai, meskipun pola musim sudah tidak seperti sebelumnya.

“Kami sudah sejak awal menyadari pentingnya adaptasi terhadap perubahan iklim dalam sektor pertanian. Percepatan LTT bukan hanya soal target nasional, tapi juga bagian dari antisipasi daerah terhadap krisis pangan global,” ujar Edi.

Sejak empat tahun terakhir, Pemkab Kukar telah mengembangkan optimalisasi lahan pertanian seluas 8.000 hektare yang tersebar di lima kawasan strategis.

Tak hanya itu, infrastruktur seperti irigasi, jalan usaha tani, dan embung air terus dibangun untuk menyesuaikan dengan dinamika iklim dan kebutuhan petani.

Menurut Edi, keberhasilan program ini juga ditopang oleh sinergi lintas sektor, termasuk kerja sama dengan Kodim 0906/KKR dan Kodim 0908/Btg untuk mendukung keamanan dan efektivitas pengelolaan lahan di lapangan.

“Perubahan iklim tidak bisa dihindari, tapi bisa kita hadapi dengan strategi yang tepat. Dan itu sudah kita jalankan di Kukar: perencanaan lahan yang fleksibel, benih tahan iklim, serta dukungan teknis bagi petani,” jelasnya.

Kukar juga mulai menerapkan pendekatan pertanian berbasis cuaca, dengan memanfaatkan data prakiraan iklim untuk menentukan waktu tanam yang paling efektif.

Selain itu, pendampingan bagi petani untuk memahami risiko iklim dan cara mitigasinya terus digencarkan.

“Petani kita harus punya pengetahuan, bukan hanya soal tanam-menanam, tapi juga bagaimana bertahan menghadapi perubahan cuaca yang ekstrem. Edukasi ini penting agar produktivitas tetap terjaga,” kata Edi.

Pemkab Kukar berharap bahwa upaya ini tidak hanya menjawab kebutuhan swasembada pangan nasional, tetapi juga membentuk sistem pertanian daerah yang tangguh terhadap ancaman krisis iklim.

Dengan strategi yang tepat dan kolaborasi yang kuat, Kukar ingin menunjukkan bahwa sektor pertanian tidak boleh tertinggal dalam agenda perubahan zaman—justru harus menjadi garda terdepan dalam ketahanan terhadap tantangan global.

Exit mobile version