
Samarinda – Stadion Utama Palaran, yang pernah menjadi ikon olahraga nasional saat Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII tahun 2008, kini bersiap untuk kembali berdenyut.
Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur tengah menggulirkan rencana revitalisasi menyeluruh terhadap stadion tersebut, yang selama bertahun-tahun terbengkalai akibat minimnya perawatan infrastruktur.
Langkah ini muncul sebagai bagian dari respons pemerintah provinsi dalam mendukung agenda kompetisi olahraga tingkat daerah seperti Piala Gubernur, sekaligus menjawab kebutuhan akan fasilitas olahraga yang layak bagi pembinaan atlet lokal.
Kondisi stadion yang memprihatinkan, terutama pada aspek teknis seperti jaringan listrik dan lintasan atletik, menjadi sorotan utama dalam perencanaan rehabilitasi.
“Struktur stadion ini saling berkaitan. Lapangan dan lintasan atletik tidak bisa dipisahkan dalam sistemnya, sehingga perbaikannya harus dilakukan secara menyeluruh,” ujar Yudi Haryanto, Kepala Seksi Pengelolaan Stadion Utama Dispora Kaltim, Kamis (3/7/2025).
Dispora mengungkapkan bahwa perawatan dasar, terutama pada area rumput lapangan sepak bola, telah lebih dulu diselesaikan pada akhir 2024. Namun, pemanfaatan stadion secara penuh masih terkendala persoalan infrastruktur yang belum tersentuh sejak pemakaian terakhir berskala besar hampir dua dekade lalu.
Salah satu hambatan utama adalah jaringan kelistrikan yang tidak lagi berfungsi optimal. Sistem penerangan stadion yang dulunya menjadi kebanggaan kini membutuhkan rekoneksi daya dan peremajaan teknis agar dapat difungsikan sesuai standar pertandingan modern.
“Lampunya sebenarnya masih ada, tapi karena sistem kelistrikan tidak berjalan sejak lama, perlu ada pembenahan menyeluruh untuk bisa digunakan lagi,” kata Yudi.
Dalam upaya mempercepat penanganan, Dispora menggandeng Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk merumuskan langkah teknis dan pembiayaan jangka panjang.
Kolaborasi ini diharapkan mampu menghidupkan kembali fungsi strategis Stadion Palaran, tidak hanya sebagai venue sepak bola, tetapi juga sebagai pusat kegiatan multi-event yang mampu menopang kemajuan olahraga daerah.
“Kami ingin stadion ini bisa hidup kembali, bukan hanya sebagai simbol, tetapi juga sebagai tempat tumbuhnya prestasi atlet Kaltim,” ungkap Yudi optimistis.
Dengan pembenahan bertahap dan sinergi lintas sektor, pemerintah daerah berharap Stadion Palaran dapat kembali memainkan peran sentral dalam ekosistem olahraga Kalimantan Timur menghidupkan kembali denyut kompetisi sekaligus membangkitkan semangat regenerasi atlet lokal. (ADV)