
Samarinda – Ketika gym, alat fitness, atau kelas olahraga modern kian menjamur, warga Kalimantan Timur justru tetap setia dengan pilihan sederhana, yaitu lari dan jalan kaki. Aktivitas yang murah meriah ini menjadi rutinitas favorit, terutama di kawasan Stadion Sempaja, Samarinda, yang setiap sore dipadati masyarakat dari berbagai kalangan.
Menurut Kepala Seksi Olahraga dan Rekreasi Tradisional Dispora Kaltim, Thomas Alva Edison, olahraga lari dan jalan kaki sudah menjadi bagian dari keseharian manusia, bahkan sejak kecil. Tanpa perlu biaya besar atau alat khusus, kedua aktivitas ini mampu memberikan dampak besar bagi kesehatan tubuh secara menyeluruh.
“Sejak kecil kita sudah diajari berjalan dan berlari. Ini olahraga paling alami dan paling murah. Bisa dilakukan siapa saja, kapan saja, tanpa biaya,” ujar Thomas, Sabtu (5/7/2025).
Lebih dari sekadar bergerak, kata Thomas, olahraga ini mengaktifkan hampir seluruh otot tubuh dan merangsang kerja organ-organ penting. Dalam ilmu keolahragaan, gerakan sederhana ini terbukti mampu memperbaiki kinerja hormon dan meningkatkan kebugaran fisik secara signifikan.
“Setiap otot yang kita gerakkan saat lari atau jalan itu merangsang tubuh bekerja lebih optimal. Efeknya terasa di seluruh sistem tubuh kita,” jelasnya.
Stadion Sempaja sendiri kini menjadi magnet bagi para pelari dan pejalan kaki. Jalur larinya yang memiliki panjang sekitar 1.600 meter per putaran, menjadi arena favorit bagi warga Samarinda untuk menjaga kebugaran. Suasana sore hari di sekitar stadion selalu ramai dengan masyarakat yang ingin sekadar jogging atau berjalan santai.
“Kalau sore, stadion ini penuh. Mulai dari anak-anak, remaja, sampai orang tua ada semua. Sudah jadi rutinitas masyarakat Samarinda,” tambah Thomas.
Thomas menilai tingginya antusiasme masyarakat juga dipengaruhi oleh kemudahan akses dan tidak perlunya perlengkapan khusus. Hal inilah yang membuat lari dan jalan kaki tetap bertahan sebagai pilihan utama di tengah gempuran tren olahraga modern.
“Olahraga seperti ini nggak pernah ketinggalan zaman. Murah, mudah, dan bisa dilakukan di mana saja. Tinggal dukungan sponsor saja kalau mau bikin event,” katanya.
Dispora Kaltim sendiri mendorong agar olahraga ini tak sekadar menjadi tren musiman, melainkan budaya yang melekat dalam keseharian masyarakat. Mereka berharap kebiasaan sederhana ini bisa membentuk pola hidup sehat yang berkelanjutan.
“Harapannya, olahraga ini jadi kebiasaan jangka panjang. Bukan sekadar tren sesaat,” tutupnya. (ADV)