Home Advedtorial Teknologi Pertanian Jadi Jawaban Tani Bhakti Hadapi Tantangan Zaman

Teknologi Pertanian Jadi Jawaban Tani Bhakti Hadapi Tantangan Zaman

TENGGARONG – Pertanian masa kini tidak lagi identik dengan lumpur, cangkul, dan hasil pas-pasan. Di Desa Tani Bhakti, Kecamatan Loa Janan, paradigma baru itu sedang dibangun.

Kepala Desa Muhammad Amin tidak hanya mempertahankan sawah dari gempuran tambang, tetapi juga merancang sistem pertanian modern dengan sentuhan teknologi.

“Kita tidak bisa menahan anak muda agar bertani kalau yang mereka lihat hanya kerja berat dan hasil kecil. Maka kita ubah caranya, kita bawa teknologi masuk ke ladang,” kata Amin, Kamis (27/3/2025).

Amin kini tengah menggagas smart farming untuk skala desa. Ia bekerja sama dengan dinas pertanian untuk mendatangkan pelatihan pengenalan alat pertanian berbasis digital: dari sensor kelembaban tanah, irigasi otomatis, hingga penggunaan drone untuk memantau area tanam.

Lebih dari itu, Tani Bhakti juga mulai mendorong pemasaran digital hasil pertanian. Warga diajak belajar cara mengemas, memotret, hingga menjual produk secara daring melalui platform e-commerce.

“Kalau petani bisa kirim hasil panen ke luar kota lewat daring, itu artinya kita sudah tidak kalah dengan kota. Itu yang sedang kami bangun,” ujar Amin.

Bahkan, Amin sedang menyiapkan komunitas petani muda. Ia mengumpulkan anak-anak muda desa yang semula tidak tertarik pada pertanian, dan mengajak mereka belajar hidroponik, budidaya organik, serta sistem pertanian terpadu.

“Dulu banyak yang bilang, anak muda ogah jadi petani. Sekarang malah mereka jadi yang paling semangat kalau ada pelatihan. Karena mereka tahu, petani hari ini bisa pakai laptop dan sensor, bukan cuma cangkul,” jelasnya.

Amin percaya bahwa modernisasi pertanian adalah jalan tengah antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Ia melihat teknologi bukan pengganti manusia, tetapi alat untuk membuat kerja petani lebih efektif dan hasil lebih maksimal.

Dengan pendekatan ini, Tani Bhakti tak hanya menolak tambang, tapi menawarkan solusi. Mereka tidak sekadar bertahan—mereka maju dengan cara yang bermartabat: memelihara tanah, merangkul teknologi, dan membangun masa depan dari ladang sendiri.

“Kita tidak ingin jadi desa yang kehilangan arah karena tergoda yang instan. Kita ingin jadi desa yang bertahan karena tahu arah, tahu jati diri, dan tahu cara berinovasi,” pungkas Amin. (*).

Exit mobile version