Home Kaltim Bontang Digagas FJB dan Lentera Muda, Warga Bontang Rela Hujan-hujanan Nobar Film ‘Pesta...

Digagas FJB dan Lentera Muda, Warga Bontang Rela Hujan-hujanan Nobar Film ‘Pesta Babi’

BONTANG – Baru sekitar 10 menit diputar Film Pesta Babi, hujan mulai mengguyur Bontang, Jumat (22/5/2026) malam. Namun antusias warga Kota Bontang tidak surut, ada yang memilih bertahan dan beberapa yang memilih membubarkan diri.

Nonton bareng (Nobar) Film Pesta Babi di Bontang kali ini digagas oleh Forum Jurnalis Bontang bersama Lentera Muda Nusantara. Ber lokasi di Sekretariat FJB di Jalan Pencak Silat I, Kelurahan Api-api, Bontang Utara.

Afmanda Viola salah satu pelajar dari SMA Negeri 2 Kota Bontang menyatakan rela basah-basahan di bawah hujan deras hanya karena ingin menuntaskan rasa penasarannya terhadap Film Pesta Babi yang tengah ramai menjadi perbincangan di tempat sekolahnya.

Selain itu dirinya ingin mengetahui bagaimana kondidi di Papua melalui film documenter tersebut. Meski sudah pernah melihat film tersebut dari beberapa cuplikan film di sosial media.

“Pertama karena penasaran melihat beberapa potongan film. Akhirnya malam ini (tadi malam) melihat dari awal sampai akhir film,” ungkapnya. Sabtu (23/5/2026).

Setelah menonton film tersebut secara utuh. Menurutnya, proyek penanaman padi yang dilakukan pemerintah sejak era Presiden Soeharto, Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Presiden Jokowi tidak pernah berhasil di tanah Papua. Tapi kembali dilanjutkan di masa kepemimpinan Presiden Prabowo, tanpa ada evaluasi.

“Kenapa masih dilanjutkan juga tanpa ada evaluasi. Jadi terulang terus, gagal dan gagal,” sebutnya.

Herma Susana warga Bontang yang ikut menyaksikan film tersebut sama seperti pelajar SMA Negeri 2 Bontang, berawal dari penasaran dengan judul Film Pesta Babi.

Caption: Warga Bontang bertahan menyaksikan Film Pesta Babi di tengah guyuran hujan. (Antusian warga Bontang menyaksikan Film Pesta Babi di Sekretariat FJB. (Dokumentasi FJB).

Awalnya, Herma mengira judul fim tersebut merupakan film menceritakan tentang tradisi orang Papua yang melakukan persembahan. Setelah menonton secara utuh film tersebut. Ia menilai secara kasat mata apa yang terjadi seperti terjadinya penjajahan.

“Setelah menonton, mengerikan secara kasat mata. Secara tidak langsung kita di sini juga jadi korban, tapi sebagai masyarakat awam saya tidak paham politik,” katanya.

Sementara, Frejiae berpendapat jika film ini secara tidak langsung memberikan wawasan tersendiri bagi dirinya. Dari film karya Dandhy Laksono bersama Watch Doc dan lainnya, mulai dari Sexy Killer 2019 dan Dirty Vote 2024 hingga Pesta Babi.

“Film ini memberikan edukasi jika kondisi Indonesia sedang tidak baik-baik saja dan mengajak peduli sesama warga negara,” ucapnya.

Ruang Belajar dan Refleksi Jurnalisme Lokal
Ketua FJB, Herdi Jafar mengatakan film dokumenter investigasi seperti Pesta Babi memberi ruang yang kuat untuk membicarakan peran jurnalisme, keberanian mengungkap fakta, dan pentingnya menjaga independensi pers.

Film ini bukan sekadar karya visual. Namun bentuk kerja jurnalistik yang membutuhkan ketekunan, verifikasi, keberanian, biaya, serta risiko tinggi.

Lewat film ini masyarakat juga belajar melihat fakta secara lebih kritis, lebih jernih, dan lebih manusiawi. Diskusi yang terbangun usai menyaksikan film itu menjadi ruang belajar bersama, ruang keberanian, dan ruang untuk terus menjaga nilai-nilai jurnalisme yang independen, kritis, dan berpihak pada kepentingan publik.

“Semoga film ini juga dapat memantik jurnalis di Bontang untuk membuat produk yang lebih tajam dan kritis. Sebab pers yang sehat bukan yang selalu nyaman, tapi justru berani mengajukan pertanyaan, membuka ruang diskusi, dan menghadirkan perspektif yang mungkin selama ini diabaikan.

Menjaga Nalar Kritis Anak Muda
Co Founder Lentera Muda Nusantara Bontang, Indra Ali Ahmad mengucap syukur atas suksesnya kegiatan tersebut hingga berakhir, meski ditengah guyuran hujan. Melihat besarnya antusiasme warga Bontang dalam acara ini, Lentera Muda Nusantara berkomitmen untuk tidak berhenti sampai di sini.

Apresiasi juga diberikan kepada Dosen Unmul, Sri Murlianti dan Ketua KNPI indra Wijaya yang sudah meluangkan waktunya.

Ke depannya, kegiatan serupa akan terus diupayakan untuk hadir secara konsisten. Ruang-ruang dialektika dan bertukar gagasan sangat penting untuk terus dirawat, demi menjaga nalar kritis masyarakat, khususnya anak-anak muda, dalam mengawal berbagai isu di Kota Bontang.

“Terimakasihnya kepada teman-teman Lentera Muda Nusantara Dan Forum Jurnalis Bontang yang membuat nobar. Khususnya warga yang tetap antusias hingga akhir meski ditengah hujan deras,” paparnya.

Exit mobile version