
KALTIMNUSANTARA.COM- Aksi simbolik dan mimbar bebas yang digelar oleh GMNI Balikpapan adalah bentuk dari upaya mengawal keresahan serta ketidak adilan yang diterima oleh masyarakat Balikpapan khususnya mereka yang menerima dampak dari Mega Proyek ambisius yang menyisakan penderitaan bagi masyarakat Balikpapan Utara.
Aksi yang dilaksanakan di taman tiga generasi pada 21 Desember 2024 ini terdiri dari beragam mahasiswa dengan latar belakang kampus dan jurusan yang berbeda-beda dinaungi ini dan oleh GMNI Balikpapan.
Massa sebelumnya berkumpul di salah satu pendopo yang ada di taman tersebut sejak pukul 14.00 WITA dan kemudian melakukan persiapan untuk menggelar aksi simbolik dan mimbar bebas.
Sekitar pukul 16.00 WITA, aksi dimulai dengan pembukaan oleh koordinator lapangan dan dilanjutkan pembacaan doa serta dilanjutkan dengan suara lantang yang meneriakkan “MERDEKA!!!” kemudian dilanjutkan dengan orasi-orasi, puisi, nyanyian serta pembagian selebaran yang berisikan tuntutan kepada pemerintah serta pihak-pihak terkait yang bertanggung jawab atas kondisi yang menderitakan masyarakat Balikpapan utara akibat adanya pembangunan tol Balikpapan-IKN.
Rico, selaku koordinator lapangan (Korlap) yang juga merupakan kader dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) cabang Balikpapan, menjelaskan bahwa pada aksi simbolik dan mimbar bebas kali ini mahasiswa menyuarakan permasalahan-permasalahan yang terjadi atas pembangunan Tol Balikpapan-IKN.
Pada aksi yang digelar kemarin ia juga menambahkan bahwa adanya aksi ini berlandaskan pada hak-hak pekerja, masyarakat yang tidak mendapatkan perhatian yang baik untuk jalan keluar dari pemasalahan yang tengah terjadi bahkan menurutnya beberapa permasalahan yang terjadi tampak seperti pembiaran dan disengaja baik itu oleh pihak pemerintah maupun pihak perusahaan yang menang tender untuk mengelola Mega Proyek ini.
Tidak sampai disitu aliansi kawan-kawan mahasiswa yang tergabung dalam aksi ini juga mendapatkan banyak fakta mencengangkan atas permasalahan yang terjadi didaerah tersebut, mulai dari dampak Kesehatan, lingkungan serta ganti rugi dari perusahaan dan mirisnya didapati pula korban jiwa dari peristiwa ini dengan hasil 1 korban jiwa meninggal dunia dan 1 kritis akibat mengidap penyakit pernafasan sebagai akibat jangka panjang yang ditimbulkan oleh kegiatan proyek massif namun tidak dibarengi dengan standar operasional kerja serta pengawasan langsung oleh pemerintah dalam keberlangsungan pembangunna proyek ambisius ini.
Tidak sampai disitu kawan-kawan mahasiswa yang melakukan Analisa sosial juga menemukan fakta baru dilapangan terkait banjir yang diderita oleh masyarakat Balikpapan Utara kerugian pun beragam mulai dari kerugian material, hingga tanah yang tidak lagi mampu berproduksi sebagai salah satu sumber pendapatan masyarakat disana mirisnya pada kejadian banjir ini pemilik rumah tidak kunjung mendapatkan ganti rugi yang dirasa layak sehingga pemilik rumah terpaksaa harus berkompromi dengan masalah banjir ini, padahal sebelum adanya proyek cilaka ini banjir bukanlah masalah baginya.
Bayangkan saja, saat tidak hujan air yang menggenang karena tidak adanya saluran drainase harus menutup akses jalan dan belum lagi dengan potensi berkembangnya nyamuk-nyamuk (Aedes Aegipty) yang membawa bahaya demam berdarah dimana kita semua tau bahwa demam berdarah adalah wabah.
Belum lagi saat hujan deras melanda, debit air yang datang dari arah Proyek tol membuat air bisa setinggi 1 – 2,5 meter sehingga membuat pemilik rumah tak bisa mendiami rumahnya sampai surut dan harus membersihkan rumahnya dari sisa endapan lumpur bayangkan saja betapa lelahnya fisik dan mental korban terdampak banjir akibat proyek ambisius ini.
Tak hanya sampai disitu, aksi simbolik yang dilaksanakan pun dengan cara menyalakan lilin dan drama dengan peran yang di lakukan meenggambarkan Tindakan Mulyono (Jokowi) pada masa kepemimpinannya membuat masyarakat kesulitan sampai saat ini sebagai bentuk penerangan atas kejadian buruk yang menimpa masyarakat .
Dengan membawa tajuk “Dampak Warisan Penderitaan Mulyono”. Kawan-kawan mahasiswa yang ber-GMNI menunjukkan semangat yang luar biasa dalam perannya menjadi penyambung lidah masyarakat Balikpapan Utara, sejak disahkannya RUU pemindahan Ibu Kota Negara ke Kalimantan timur oleh DPR pada Selasa, 18 Januari 2022 nampaklah tidak adil dan hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu saja.
Melihat situasi dan kondisi yang terjadi saat ini Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Balikpapan menyatakan “MENGUTUK KERAS TOL BALIKPAPAN-IKN YANG TIDAK MEMPERHATIKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT’ dan juga menuntut pemerintah dalam tuntutannya sebagai berikut:
- mendesak pemerintah untuk segera menyelesaikan permasalahan kompensasi ganti rugi dan bangunan masyarakat
- mendesak pemerintah untuk segera mengeevaluasi dampak lingkungan terkait pembangunan TOL IKN didaerah Balikpapan Utara
- mendesak pemerintah untuk segera menyelesaikan persoalan banjir di RT. 057 Kelurahan. Karang Joang Kecamatan. Balikpapan Utara
- menuntut pemerintah memberikan sanksi tegas kepada perusahaan yang melanggar SOP (Standar Operasional Kerja)
Di penghujung aksi yang berakhir pada 21 Desember 2024 pukul 20.00 WITA , Rico selaku Koordinator Lapangan (Korlap) juga berharap dengan adanya mimbar bebas dan aksi simbolik ini menjadi titik terang serta membawa perubahan dalam masalah-masalah terkait proyek strategis pemerintah tidak hanya di balikpapan tapi juga diseluruh Indonesia dan ia juga menyampaikan kepada pesan masyarakat bahwa kawan-kawan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) siap menampung dan mengawal segala bentuk persoalan yang tengah dihadapi masyarakat Indonesia terkait dengan kebijakan dan keputusan pemerintah yang dirasa merugikan.