SAMARINDA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menargetkan mampu mewujudkan swasembada beras pada tahun 2026, sebagai bagian dari mendukung program ketahanan pangan nasional yang dicanangkan pemerintah pusat.
Target ini ditegaskan langsung oleh Wakil Gubernur Kaltim, H. Seno Aji, yang menyebut seluruh jajaran pemerintah daerah telah diminta bekerja lebih optimal untuk meningkatkan hasil produksi pertanian.
Menurut Seno Aji, sejauh ini capaian produksi padi secara nasional telah menyentuh angka 3,8 juta ton, dan sebagian sudah mulai memasuki tahap ekspor.
Meski begitu, ia menekankan pentingnya agar Kaltim bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan beras warganya, sehingga tidak terus bergantung pada pasokan dari luar daerah.
“Kita tetap sejalan dengan arahan Presiden. Di Kaltim, tahun depan harus sudah mulai swasembada beras. Semua OPD terkait sudah saya minta untuk bekerja maksimal sesuai instruksi Menteri Pertanian,”ujarnya, Selasa (3/6/2025).
Seno mengungkapkan, peningkatan produktivitas menjadi fokus utama.
Jika sebelumnya rata-rata hasil panen berada di kisaran 250 ribu ton per tahun, maka pada musim panen berikutnya ditargetkan mampu menembus angka 300 hingga 350 ribu ton per tahun.
Namun tantangan utama dalam sektor pertanian Kaltim, kata Seno, masih berkutat pada faktor cuaca ekstrem, baik berupa hujan yang tidak menentu maupun musim kemarau berkepanjangan.
Untuk itu, pemerintah daerah mulai menempuh langkah konkret di sektor infrastruktur pertanian, terutama sistem irigasi.
“Solusinya kami mulai dari pembenahan pengairan. Irigasi yang baik pasti akan meningkatkan hasil panen. Di musim kemarau pun, kami siapkan pompa air dan tempatkan sawah-sawah dekat sungai besar agar tetap bisa diairi,”jelasnya.
Langkah antisipatif itu, menurut Seno, penting untuk menjaga stabilitas produksi meski kondisi cuaca tidak menentu.
Dengan pemanfaatan sumber air dari sungai besar, pasokan air bagi lahan pertanian diharapkan tetap terjaga sepanjang tahun, termasuk saat musim kemarau.
“Kami pastikan tidak ada lahan pertanian yang gagal panen hanya karena kekeringan. Sungai besar tetap mengalir, dan pompa-pompa akan kami optimalkan untuk menjangkau sawah-sawah yang jauh dari sumber air,”tambahnya.
Pemerintah Provinsi Kaltim juga terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memastikan dukungan teknis dan logistik dalam proses penguatan sektor pertanian ini.
Harapannya, selain memenuhi kebutuhan lokal, Kaltim juga bisa menjadi lumbung pangan alternatif di kawasan timur Indonesia dalam jangka panjang.
(adv/diskominfokaltim).


