KUKAR – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus mendorong optimalisasi bank sampah sebagai upaya mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Saat ini, terdapat sekitar 65 unit bank sampah aktif yang tersebar di 20 kecamatan.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) DLHK Kukar, Tri Joko Kuncoro, mengatakan keberadaan bank sampah perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan pengolahan sampah sejak dari sumbernya, terutama di lingkungan rumah tangga.
Menurutnya, masyarakat perlu mulai membiasakan diri memilah sampah sebelum dibuang. Material yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dikumpulkan untuk didaur ulang atau dimanfaatkan kembali, sehingga tidak seluruh sampah harus diangkut ke TPA.
“Selama ini penanganan sampah masih banyak menggunakan pola kumpul, angkut, buang. Ke depan, kebiasaan tersebut perlu diubah dengan membiasakan masyarakat memilah dan mengolah sampah terlebih dahulu,” ucap Tri Joko, Kamis (15/10/2026).
Tri Joko menjelaskan, pengurangan sampah harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tingkat rumah tangga hingga proses penanganan di TPA.
Sebab, mengandalkan pengangkutan tanpa mengurangi sampah dari sumbernya berpotensi meningkatkan beban TPA.
Karena itu, sambung Tri Joko, keberadaan bank sampah menjadi hal yang paling krusial dalam mendorong perubahan pola pengelolaan sampah.
Ia menegaskan, penanganan sampah tidak cukup hanya dengan membersihkan lingkungan permukiman. Pengolahan setelah sampah dikumpulkan juga perlu diperhatikan agar jumlah sampah yang dibuang ke TPA dapat dikurangi.
“Persoalan sampah ini harus ditangani dari hulu sampai hilir. Kalau semua sampah langsung dibawa ke TPA, volumenya akan terus bertambah. Karena itu, sampah yang masih bisa dimanfaatkan perlu dipisahkan agar tidak semuanya berakhir di sana,” jelasnya.
Tri Joko memastikan pihaknya akan terus mendorong agar puluhan bank sampah yang telah beroperasi dapat berperan lebih optimal dalam mengajak masyarakat melakukan pemilahan.
Ia menilai partisipasi warga menjadi kunci agar pengurangan sampah tidak hanya bergantung pada kegiatan pengangkutan oleh petugas.
“Kami berharap masyarakat semakin terbiasa memilah sampah dari rumah. Material yang masih bernilai bisa dimanfaatkan kembali, sedangkan sampah residu tetap ditangani sesuai ketentuan,” tandas Tri Joko. (Adv)


