100 Unit Pengelola Sampah Dibentuk, Masyarakat Kutim Aktifkan Ekonomi Sirkular Lokal

Loading

SANGATTA – Upaya pengelolaan lingkungan berkelanjutan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memasuki babak baru. Pemerintah daerah bersama industri dan komunitas lokal memperkuat kolaborasi dalam mengembangkan ekonomi sirkular melalui pembentukan sekitar 100 Unit Pengelola Sampah (UPS) di berbagai RT. Program ini menjadi fondasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mendorong pengolahan sampah sebagai sumber nilai ekonomi baru.

Informasi tersebut mengemuka dalam audiensi antara SKK Migas dan Pertamina EP Sangatta dengan Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman di Ruang Kerja Bupati, pekan lalu. Salah satu topik utama pertemuan adalah penguatan bank sampah di Sangatta Selatan (Sangsel) yang kini berkembang menjadi pusat pengelolaan sampah terintegrasi.

Bupati menilai inovasi yang muncul dari bank sampah tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat setempat mampu menghadirkan solusi kreatif terhadap persoalan lingkungan. Salah satunya pengolahan sampah plastik menjadi biji plastik, yang kini ditingkatkan menjadi pembuatan manik-manik berbahan daur ulang.

“Potensinya besar. Mereka sudah bekerja sama dengan mitra pengolahan plastik, dan kini mengembangkan mesin pembuat manik-manik. Ini inovasi yang tidak banyak dilakukan daerah lain,” ujar Ardiansyah.

Mesin pembuatan manik-manik dari plastik daur ulang saat ini tengah dirakit oleh pengelola bank sampah. Bila berhasil, inovasi tersebut menjadi terobosan unik karena manik-manik memiliki nilai budaya tinggi dalam masyarakat Dayak. “Kalau ini berhasil, luar biasa. Karena manik-manik adalah bagian dari budaya Dayak, dan kita bisa hasilkan dari sampah plastik. Karya seperti ini perlu didaftarkan hak ciptanya supaya tidak ditiru pihak lain,” kata Ardiansyah.

Bupati menambahkan, pemerintah daerah akan memastikan program ini terintegrasi dengan rencana pembangunan tahun berikutnya. Ia menekankan pentingnya memperkuat sinergi lintas sektor agar pengelolaan sampah tidak hanya menjadi kerja komunitas, tetapi menjadi gerakan bersama. “Mumpung kita menjelang akhir tahun, program seperti ini bisa kita sinergikan untuk rencana tahun depan. Supaya semua bergerak bersama,” ujarnya.

Selain masyarakat, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah Kutim turut mendukung inisiatif pengelolaan sampah. Sejumlah perusahaan disebut rutin mengirimkan sampah plastik ke bank sampah untuk diolah, sekaligus membantu memperkuat rantai pasok pengelolaan sampah lokal.

Pertamina EP Sangatta dalam kesempatan itu menyampaikan komitmennya untuk terus membantu penyediaan sarana pemilahan sampah serta mendorong keberlanjutan program UPS di tingkat RT. Dukungan ini diharapkan mampu memperluas jangkauan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. (ADV/ProkopimKutim/KN)

Berita Terkait

Most Popular