![]()
KUTAI TIMUR – Upaya membangun perkebunan berkelanjutan di Kutai Timur tak bisa berjalan sendiri. Pemerintah daerah menyadari bahwa sinergi antara semua pemangku kepentingan di sepanjang ranta i pasok menjadi kunci keberhasilan transformasi hijau di sektor ini.
Hal tersebut mengemuka dalam dialog interaktif “Kolaborasi Mewujudkan Transformasi Perkebunan Berkelanjutan Kabupaten Kutai Timur” yang digelar di Hotel Royal Victoria, Sangatta, pekan ini. Acara ini menghadirkan beragam pihak mulai dari Pemkab Kutim, Bappeda, koperasi petani, hingga perusahaan cokelat global Barry Callebaut Group.
“Transformasi perkebunan berkelanjutan menuntut komitmen bersama. Kami sudah memasukkannya dalam RPJMD Kutai Timur sebagai program strategis daerah,” ungkap Poniso Suryo Renggono, Asisten Ahli Pemerintahan Umum dan Kesra mewakili Bupati Ardiansyah Sulaiman.
Poniso menambahkan, Pemkab Kutim tengah menyiapkan rencana aksi konkret agar kebijakan tidak berhenti di tataran dokumen. Salah satunya ialah mendorong pembentukan wilayah percontohan.
Gagasan tersebut didukung Ripto Widargo, Kepala Bidang Ekonomi dan SDA Bappeda Kutim, yang menilai pilot project penting untuk mengukur efektivitas penerapan pendekatan yurisdiksi berkelanjutan di lapangan. “Kami ingin satu wilayah menjadi laboratorium belajar bersama,” katanya.
Dukungan juga datang dari Jesica Wettstein, perwakilan Barry Callebaut Group Singapura, yang memandang Kutai Timur sebagai daerah potensial untuk pengembangan kakao dan sawit berkelanjutan. “Kutim punya modal besar: petani aktif, koperasi kuat, dan pemerintah yang terbuka terhadap dialog,” ujarnya.
Namun di sisi lain, Ade Akbar, Ketua Koperasi Jasa Mutiara Kongbeng, menekankan pentingnya dukungan pembiayaan agar petani bisa mendapatkan sertifikasi RSPO yang diakui global. “Kami ingin petani Kutim bisa sejajar dengan pelaku industri besar,” katanya.
Inisiatif Pemkab Kutim ini menjadi langkah nyata dalam menguatkan citra daerah sebagai pelopor perdagangan hijau (green trade) di Kalimantan Timur. Melalui kolaborasi lintas pihak, Kutim berharap mampu menyeimbangkan antara produktivitas ekonomi dan kelestarian lingkungan. (ADV/ProkopimKutim/KN)


