Bupati Kutim Gaungkan Gerakan Hidup Sehat Bersama RS Santa Elisabeth

Loading

BENGALON – Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman menggaungkan Gerakan Hidup Sehat saat meresmikan Rumah Sakit Santa Elisabeth di Desa Sepaso, Kecamatan Bengalon. Dalam acara peresmian yang dihadiri unsur pemerintah, tokoh masyarakat, dan warga setempat itu, Ardiansyah menegaskan pentingnya kolaborasi antara fasilitas kesehatan dan kesadaran masyarakat dalam mewujudkan Kutim yang sehat dan sejahtera.

“Kehadiran rumah sakit ini adalah bentuk kepedulian terhadap masyarakat di wilayah terpencil. Ini langkah besar memperluas jangkauan layanan kesehatan di Kutim,” ujar Ardiansyah dalam sambutannya.

Bupati menekankan RS Santa Elisabeth tidak hanya menjadi pusat pelayanan medis, tetapi juga mitra strategis dalam membangun kesadaran akan pentingnya pola hidup bersih dan sehat (PHBS) di tingkat rumah tangga. Ia mengajak seluruh masyarakat Bengalon menjadikan peresmian rumah sakit ini sebagai momentum memperkuat budaya hidup sehat. “Sehat itu tidak cukup dengan rumah sakit. Pola hidup bersih dan kesadaran menjaga diri jauh lebih penting,” katanya.

Ardiansyah turut mengutip pesan Ketua TP PKK Kutim, Hj Siti Robiah, yang aktif mengampanyekan pemberantasan tuberkulosis (TBC) dan perilaku hidup sehat. “Jangan merokok di dalam rumah. Perlindungan terhadap keluarga dimulai dari kesadaran individu,” ujarnya menirukan pesan sang istri.

Pemerintah Kabupaten Kutim, lanjutnya, telah mengalokasikan Rp80 hingga Rp100 miliar per tahun dari APBD untuk menjamin pembiayaan kesehatan masyarakat melalui kerja sama dengan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. “Tidak ada lagi alasan takut berobat karena biaya. Negara hadir melalui anggaran daerah,” tegas Ardiansyah.

Sementara itu, Suster Floresta Sitepu, Direktur RS Santa Elisabeth, menyampaikan bahwa rumah sakit ini lahir dari semangat iman dan kasih. “Kami memulai karya ini bukan karena kekayaan, tapi karena panggilan untuk berbagi kasih dan menghadirkan penyembuhan bagi siapa pun,” ucapnya.

Ia menambahkan, RS Santa Elisabeth dirancang sebagai tempat pelayanan holistik yang mengedepankan empati dan sentuhan manusiawi. “Yang sakit tidak hanya butuh obat, tapi juga kata yang menenangkan dan perhatian tulus,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Uskup Keuskupan Agung Samarinda, Mgr Yustinus Harjosusanto, menyebut RS Santa Elisabeth sebagai “oase kasih” bagi masyarakat Bengalon. “Di sini yang sakit menemukan penghiburan, yang lemah mendapat kekuatan, dan yang terabaikan memperoleh harapan baru,” tuturnya. (ADV/ProkopimKutim/KN)

Berita Terkait

Most Popular