Dinkes Kutim Tingkatkan Inovasi Layanan, Optimis Tekan Kasus TBC dengan Teknologi Canggih

KUTAI TIMUR – Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) berupaya menekan angka kasus tuberkulosis (TBC) dengan mengadopsi inovasi layanan kesehatan hasil studi tiru dari Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang, Sumatera Barat.

Tantangan geografis dan akses yang sulit membuat Dinkes Kutim fokus memperluas jaringan layanan kesehatan menggunakan teknologi terbaru demi mencapai eliminasi TBC di wilayah tersebut.

Dinas Kesehatan Kutai Timur terus mencari solusi untuk mengatasi tingginya kasus tuberkulosis (TBC) di daerah dengan wilayah yang luas dan sulit dijangkau. Upaya terbaru yang dilakukan adalah mengadopsi inovasi dari Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, yang baru-baru ini dikunjungi oleh perwakilan Dinkes Kutim.
Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr. Bahrani Hasanal, menjelaskan bahwa kendala utama dalam pelayanan kesehatan di Kutim adalah jarak antarwilayah yang jauh, yang sering kali mempersulit masyarakat dalam mengakses fasilitas kesehatan. “Kami melihat upaya sukses yang diterapkan di Kota Padang Panjang, dan berusaha menerapkannya di Kutai Timur untuk memperkuat layanan kesehatan kami,” ujar Bahrani di Sangatta, Rabu (13/11/2024).

Saat ini, Kutai Timur memiliki 21 puskesmas yang tersebar di berbagai kecamatan, namun akses menuju fasilitas kesehatan tersebut masih menjadi tantangan. Untuk menjawab tantangan ini, Dinas Kesehatan Kutim terus berupaya memperluas jaringan layanan serta melengkapi fasilitas kesehatan dengan teknologi terbaru.

Kabupaten Kutai Timur telah menggunakan teknologi Tes Cepat Molekuler (TCM) di empat puskesmas dan satu rumah sakit. Teknologi ini mampu mendeteksi penyakit menular seperti TBC dengan lebih cepat dan akurat. Data terakhir menunjukkan angka kasus TBC di Kutim mencapai 60,1 persen pada tahun 2023, dengan tingkat keberhasilan pengobatan sebesar 87,6 persen.

“Ke depan, kami berencana untuk menambah layanan PCR dan rontgen (X-ray) di beberapa fasilitas kesehatan, terutama di wilayah yang sulit dijangkau. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat deteksi dini dan diagnosis penyakit, sehingga pengobatan bisa dilakukan lebih awal,” tambah Bahrani.

Dengan peningkatan teknologi dan inovasi layanan ini, Dinkes Kutim optimis dapat menurunkan angka kasus TBC secara signifikan. Bahrani berharap langkah-langkah ini dapat membantu mencapai target eliminasi TBC sesuai kebijakan yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.

“Semoga dengan inovasi yang kami lakukan, angka kasus TBC di Kutai Timur dapat terus ditekan, dan masyarakat di daerah terpencil bisa mendapatkan layanan kesehatan yang lebih baik dan cepat,” tutup Bahrani. (Adv/Diskominfo Kutim)

Berita Terkait

Most Popular