![]()
KALTIMNUSANTARA.COM- Dpinggir jalan, lampu merah, beberapa pusat perbelanjaan ditemukan anak-anak yang meminta-minta dan berkostum badut untuk mendapatkan belas kasihan dari pengunjung dan pengguna jalan.
Hal ini tengah disoroti oleh Ketua DPRD Kabupaten Kutai Timur Joni. Joni menyebutkan bahwa fenomena maraknya anak yang meminta-minta dan berkostum badut bukanlah hal yang benar.
Bagaimana tidak, seharusnya anak-anak menghabiskan banyak waktu untuk bermain dan belajar di sekolah bersosialisasi bersama teman-teman sebayanya
Namun melihat fenomena menjemurnya pengemis dan badut yang dilakukan oleh anak-anak ini menimbulkan kekhawatiran bagi Joni.
Joni mempertanyakan Di manakah peran seorang orang tua yang seharusnya melindungi dan menjaga anak mereka untuk tetap berada di fase bermain dan belajar bersama teman sebayanya.
“Makanya dari banyak hal kita coba, misalnya mendatangi permasalahannya, kalo kita tidak lakukan, tidak tau permasalahan anak ini, minta-minta uang di pinggir jalan, atau kerja di pinggir jalan,” jelasnya. Pada saat di jumpai hari Jum’at (7/6/2024).
Joni menduga adanya sangkut paut antara kemiskinan dan rendahnya sumber daya manusia yang mengakibatkan terjadinya eksploitasi pada anak.
Tak hanya itu adanya eksploitasi pada anak tersebut juga menimbulkan terjadinya kekerasan pada anak yang dilakukan oleh orang tua.
Maka itu pihaknya DPRD Kabupaten Kutai Timur tengah gencar mensosialisasikan Peraturan Daerah (Perda) Penyelenggaraan Perlindungan Anak (PPA) kepada masyarakat.
Joni mengungkapkan bahwa DPRD Kabupaten Kutai Timur berkoordinasi bersama pejabat setempat untuk memberantas eksploitasi dan kekerasan terjadi pada anak.
Dengan terjalinnya sinergi antarpihak diharapkan dapat maksud tuntas kekerasan dan eksploitasi yang terjadi pada anak. (Adv)


