
SAMARINDA – Anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda Sani Bin Husain meminta Pemerintah Kota Samarinda mengubah pendekatan dalam pengembangan pasar tradisional dengan menjadikan kebutuhan masyarakat dan potensi ekonomi sebagai dasar utama perencanaan. Menurutnya, pembangunan pasar tidak boleh lagi hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi harus mampu melahirkan pusat perdagangan yang hidup dan berkelanjutan.
Sani menilai keberhasilan sebuah pasar tidak ditentukan oleh megahnya bangunan, melainkan dari tingginya aktivitas ekonomi yang berlangsung di dalamnya. Karena itu, setiap rencana pembangunan maupun revitalisasi pasar harus diawali dengan kajian yang komprehensif mengenai karakteristik wilayah, kebutuhan pedagang, dan potensi perdagangan setempat.
“Pasar yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya bangunannya yang bagus, tetapi pasar yang benar-benar ramai dan mampu menggerakkan ekonomi. Karena itu, perencanaannya harus berangkat dari kebutuhan yang ada di lapangan,” ujarnya, Selasa (14/7/2026)
Menurutnya, pola pembangunan yang selama ini lebih banyak ditentukan dari atas (top-down) sudah saatnya dievaluasi. Pemerintah didorong lebih banyak melibatkan masyarakat dan pelaku usaha dalam menyusun rencana pengembangan agar kebijakan yang diambil sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.
Sani juga berpandangan seluruh pasar tradisional di Samarinda seharusnya dikembangkan sebagai jaringan perdagangan yang saling melengkapi, bukan saling bersaing memperebutkan pengunjung. Dengan konsep tersebut, aktivitas ekonomi di berbagai kawasan dapat tumbuh secara lebih merata.
“Tujuannya bukan membuat satu pasar lebih unggul dari yang lain, tetapi bagaimana semua pasar bisa berkembang bersama dan menjadi pusat ekonomi di wilayahnya masing-masing,” katanya.
Ia menegaskan revitalisasi pasar tetap penting dilakukan, namun harus dilandasi evaluasi terhadap proyek-proyek sebelumnya. Menurutnya, pembangunan pasar di lokasi yang belum memiliki aktivitas perdagangan justru berisiko menghasilkan fasilitas yang kurang dimanfaatkan.
Sebaliknya, pemerintah dinilai lebih tepat memperkuat kawasan yang telah memiliki aktivitas jual beli dengan menyediakan fasilitas yang lebih representatif sehingga pertumbuhan ekonomi masyarakat dapat terus berkembang.
“Kalau aktivitas ekonominya memang sudah ada, pemerintah tinggal memperkuat melalui fasilitas yang lebih baik. Tetapi kalau belum ada pergerakan ekonomi, jangan memaksakan pembangunan karena hasilnya belum tentu efektif,” tegasnya.
Sani berharap Pemerintah Kota Samarinda mulai menerapkan perencanaan pembangunan yang berbasis aspirasi masyarakat (bottom-up planning). Dengan pendekatan tersebut, pengembangan pasar diharapkan benar-benar menjawab kebutuhan warga sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi lokal.
“Pemerintah seharusnya memperkuat potensi ekonomi yang sudah tumbuh di masyarakat. Dengan begitu, pasar tradisional akan benar-benar berfungsi sebagai penggerak ekonomi dan memberi manfaat bagi pedagang maupun masyarakat luas,” pungkasnya. (Adv)