BONTANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bontang resmi menandatangani nota kesepahaman (MOU) untuk memperkuat peran Posyandu dalam penurunan angka stunting.
Ketua Tim Pembina Posyandu, Nur Kalbi Agus Haris, mengatakan kerja sama ini menjadi langkah strategis agar pelayanan kesehatan masyarakat lebih terintegrasi. “Dengan adanya MOU ini, kami berharap Posyandu tidak hanya menjadi tempat pemeriksaan rutin ibu dan anak, tetapi juga pusat edukasi keluarga,” ucap Nur Kalbi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bontang, Bambang Sri Mulyono, menegaskan perlunya data kesehatan yang lebih akurat. “Penting bagi kita untuk memiliki sistem data yang terintegrasi dan terkini, khususnya tentang status gizi anak dan ibu hamil. Dengan kolaborasi ini, kami optimistis data yang terkumpul bisa mendukung upaya preventif terhadap stunting,” jelasnya.
Ketua MUI Kota Bontang, Misbahul Munir, juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis agama. “Pesan-pesan kesehatan jika disampaikan lewat mimbar masjid insyaallah akan lebih mudah diterima. Karena itu, kami mendukung penuh program ini,” tegasnya.
Nur Kalbi menambahkan, keterlibatan MUI akan memperkuat aspek penyuluhan kesehatan yang berkelanjutan. “Kami ingin masyarakat mendapatkan informasi gizi dan pola hidup sehat tidak hanya dari tenaga kesehatan, tapi juga dari tokoh agama yang mereka dengarkan sehari-hari,” katanya.
Sementara itu, Bambang menutup dengan optimisme bahwa kerja sama ini dapat menjadi tonggak penting dalam membangun generasi sehat. “Jika kita bergerak bersama, insyaallah angka stunting bisa ditekan, dan Bontang mampu melahirkan masyarakat yang lebih sehat, sejahtera, dan berdaya saing,” pungkasnya. (*)


