SAMARINDA – Upaya menjadikan olahraga sebagai bagian dari keseharian masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) terus digalakkan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim. Salah satu terobosan yang tengah dikembangkan adalah penerapan Indeks Pembangunan Olahraga (IPO), sebagai instrumen pengukur dan pendorong partisipasi masyarakat dalam aktivitas fisik.
Suriani, dari Seksi Olahraga Pendidikan dan Sentra Olahraga Dispora Kaltim, menjelaskan bahwa IPO memiliki sembilan komponen utama yang saling berperan dalam menciptakan ekosistem olahraga yang sehat dan produktif.
“Kesembilan indikator tersebut menjadi landasan untuk menilai sejauh mana perkembangan olahraga di daerah-daerah,” jelasnya, Kamis (15/5/2025).
Tahap awal pelaksanaan IPO dilakukan secara terbatas di lima wilayah sebagai lokasi percontohan. Kabupaten/kota tersebut antara lain Balikpapan, Penajam Paser Utara, Kutai Timur, dan Kutai Barat.
“Pemilihan lokasi uji coba ini ditujukan untuk memetakan tantangan dan potensi, sebelum diperluas ke daerah lain pada tahun mendatang,” tambah Suriani.
Selain IPO, Dispora juga rutin menggelar kompetisi olahraga tahunan yang menyasar berbagai cabang berbeda setiap tahun. Strategi ini diyakini mampu menarik lebih banyak peminat dan mendorong regenerasi atlet sejak usia dini.
“Tahun lalu, kami selenggarakan lomba panjat tebing dan sepatu roda. Tahun ini fokus kami pada pencak silat dan karate. Untuk tahun depan, rencananya judo yang akan dipertandingkan,” ujarnya.
Minat masyarakat terhadap event semacam ini ternyata cukup tinggi. Bahkan, menurut Suriani, terdapat permintaan agar cabang olahraga yang dilombakan digilir setiap tahunnya agar semakin banyak yang bisa berpartisipasi.
“Respon dari publik sangat positif, meski dalam praktiknya masih ada kendala, seperti keterlambatan informasi yang sempat memengaruhi jumlah peserta di cabang pencak silat tahun ini,” terangnya.
Suriani menegaskan bahwa kegiatan kompetitif ini bukan semata untuk mencari juara, tetapi untuk menanamkan kebiasaan aktif dan sehat di kalangan masyarakat.
“Tujuan kami bukan hanya membentuk atlet, tapi membangun kebiasaan hidup sehat melalui olahraga,” katanya.
Ia pun berharap seluruh program ini berdampak luas. Tak hanya pada peningkatan prestasi, tetapi juga dalam membentuk budaya olahraga di tengah masyarakat.
“Masih banyak pekerjaan rumah karena data menunjukkan minat berolahraga masih di bawah 50 persen. Kami ingin mengubah itu, agar olahraga bisa menjadi bagian dari gaya hidup warga Kaltim,” tutupnya. (Adv)


