KALTIMNUNUSANTARA.COM-Setelah ditetapkannya 4 calon yang akan bertarung di gelanggang politik oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum) pada 22 September kini waktunya pemuda dan mahasiswa untuk mengawal jalannya pertarungan
Menurutnya pemuda hari ini harus melek terhadap politik, jangan lagi hanya diam dan jadi penonton.
” Penetapan 4 calon wali dan wakil walikota Bontang adalah bell tanda mulainya pertarungan dalam gelanggang politik pilkada kota Bontang. Pemuda dan mahasiswa harus mengambil peran dalam pertarungan ini. Baik itu sebagai Tim sukses maupun sebagai pemantau dari luar ring” ungkapnya.
Pilkada serentak yang akan di laksanakan pada bulan november nantinya menjadi panggung pemuda untuk mengawal pilkada ini, akan banyak pemilih muda maupun pemula yang ikut serta pada pilkada tahun ini. Terlepas daripada pemilu harapannya pemuda kota bontang betul-betul mengawal pilkada ini dan pemuda harus aktif terlibat dalam kontestasi demokrasi ini, Jangan sampai pemuda apatis terhadap pilkada di kota bontang.
“Dalam pesta demokrasi ini, saya berharap pemuda kota bontang betul betul mengawal pilkada dan aktif mengkaji setiap visi misi yang di sajikan oleh pasangan calon walikota, karena satu suara pemuda itu menentukan jalannya kota bontang 5 tahun kedepan.”
KPU Bontang juga telah merincikan Pemilih pemula yakni Generasi Z usia 17 hingga usia 26 tahun, menggunakan hak pilihnya sebanyak 33.351 atau 25 persen. Dan pemilih milenial di usia 27 tahun hingga 42 tahun yang menggunakan hak suaranya ada sebanyak 48.897 atau 37 persen dari total jumlah pemilih yaitu 131.595 jiwa.
Menurutnya data yang telah di sampaikan oleh KPU menunjukkan bahwa penentu dari kemajuan kota Bontang adalah bagaimana dan siapa nantinya yang akan dipilih oleh pemuda dan mahasiswa.
” Seperti yang disampaikan KPU, menurut saya Pemilu kali ini ada di tangan para pemuda, sejarah dan data berbicara. Lebih dari 50 persen atau tepatnya 62 persen pemilih kali ini adalah pemuda dengan rentang usia 17 hingga 42 Tahun.” Ungkap mahasiswa STT Migas ini.
Dia juga berharap para penyelenggara harus lebih intens memberikan sosialisasi terkait apa saja pelanggaran dalam pemilu, dan bagaimana cara melaporkannya. Karena minimnya sosialisasi dari KPU dan Bawaslu akan menjadi celah dari kecurangan yang akan terjadi dalam Pemilu.
” Saya juga berharap, KPU dan Bawaslu harus lebih sering memberikan sosialisasi terkait apa saja yang masuk dalam kategori pelanggaran dalam pemilu dan bagaimana melaporkannya. Baik itu melalui ruang-ruang tatap muka maupun infografis yang di share lewat sosial media ” Tutup Pemuda yang biasa di sapa Rama


